Catatan Muchlis Gasim
Catatan mingguan tentang manusia, kepemimpinan, teknologi, kebangsaan, dan berbagai perubahan kecil yang diam-diam membentuk Indonesia.
Hari Esok Tukang Becak Itu
Ada kesempatan yang lewat hanya karena kita takut, ada risiko yang diambil tanpa memikirkan orang lain. Berhasil pun tidak otomatis berarti dulu kita menimbang dengan benar
Dari Bangku Belakang
Kita melihat hasil kerjanya lebih dahulu: tugas yang terlambat, jawaban yang keliru, halaman yang belum penuh. Padahal keadaan yang mendahului hasil itu belum tentu kita ketahui.
Batang Kendali
Kita tidak selalu dapat memilih apa yang datang dari luar. Bahkan reaksi pertama dalam diri kadang muncul sebelum sempat kita timbang.
Bibit dan Anak Bibit
Yang menarik bukan hanya apakah bunyinya masih terdengar, melainkan siapa yang duduk di sebelah siapa ketika bunyi itu dipelajari.
Harga Sebuah Kemudahan
Kemudahan memang membuat hidup lebih praktis. Yang barangkali perlu kita jaga justru jeda kecil sebelum keputusan selesai. Untuk sesuatu yang tidak mendesak, apakah barang ini benar-benar perlu dimiliki sekarang, atau kita sedang mengambil sebagian ruang dari kebutuhan yang belum datang?
Bahasa di Antara Kita
Kita cukup sering merasa urusan komunikasi selesai ketika sesuatu sudah dikatakan, jarang kita memikirkan apa yang terjadi setelah kata-kata meninggalkan kita.
Buku yang Harus Kembali
Banyak hal kita temukan dalam keadaan sudah tersedia karena orang sebelumnya tidak menghabiskan semuanya untuk dirinya sendiri. Pada suatu waktu, giliran itu berpindah kepada kita.
Satu Gunung, Jalan Berbeda
Apa yang terlihat hari ini tetap penting untuk dinilai, tetapi hari ini belum selesai menceritakan hari esok. semua kehidupan bisa berubah
Keselamatan Dimulai Sebelum Bencana Datang
Sebab keselamatan dimulai jauh sebelum bencana datang.
Di Luar Layar, Ada Masa Kecil
Layar boleh menjadi bagian dari masa kecil mereka. Jangan sampai ia menjadi seluruh masa kecil mereka.
Setelah Upacara, Kemerdekaan Diuji Makna merdeka ketika perayaan usai
Kemerdekaan tidak berakhir ketika upacara selesai. Nilainya justru diuji setelah lapangan kembali sepi dan kita bebas memilih apa yang akan dilakukan.
Satu Barisan, Banyak Watak Antrean menguji kesabaran, keadilan, dan kepercayaan
Mengantre berarti mengakui bahwa waktu mereka sama berharganya dengan waktu kita. Nomor urut adalah janji bahwa setiap orang akan dilayani menurut aturan. Bukan karena suaranya lebih keras, kedudukannya lebih tinggi, atau kemampuannya menemukan jalan pintas.
