Suar Berita
Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Perwira Menengah TNI AD

Pengamat komunikasi strategis, hubungan internasional, serta perkembangan teknologi dan masyarakat.

Sosial

Dari Bangku Belakang

15 dibaca
Bagikan:
Dari Bangku Belakang

Ada jeda kecil yang kadang dialami orang ketika pertama kali memakai kacamata. Mereka menoleh ke sekeliling seperti baru tiba di tempat yang sudah lama ditinggali. Daun ternyata punya urat. Wajah di seberang ruangan mempunyai garis yang sebelumnya samar. Huruf di kejauhan tidak lagi menyatu.

Kacamata itu tidak mengubah dunia di hadapannya. Hal-hal yang selama ini samar kini terlihat lebih jelas.

Pada 8 Oktober lalu, dunia memperingati Hari Penglihatan Sedunia. Ada penelitian yang membuat saya kembali memikirkan ruang kelas. Dalam sebuah uji acak di sekolah dasar pedesaan China, yang diterbitkan BMJ pada 2014, hanya sekitar 15 persen anak peserta penelitian yang membutuhkan kacamata sudah memakainya pada awal penelitian. Setelah sebagian anak memperoleh kacamata gratis di sekolah, hasil tes matematika kelompok itu sedikit lebih baik daripada kelompok pembanding. Tidak semua anak memakainya, dan selisih hasil belajarnya pun tidak besar.

Bayangkan seorang anak duduk di bangku belakang. Ia melihat beberapa huruf di papan seolah berhimpitan. Ia menyipitkan mata, menebak, lalu menulis sebisanya. Mungkin ia belum pernah mengeluh karena tidak tahu bahwa teman di sebelahnya melihat huruf-huruf itu lebih jelas. Baginya, begitulah papan tulis selalu terlihat.

Dari depan kelas, guru melihat seorang murid masih menulis ketika teman-temannya sudah selesai. Sulit mengetahui penyebabnya hanya dengan memandang dari tempat guru berdiri. Anak itu bisa saja membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pelajaran. Bisa pula ia belum dapat melihat tulisan dengan baik.

Penilaian yang terburu-buru tidak selalu lahir dari ketidakpedulian. Guru harus memperhatikan banyak anak dalam waktu yang sama. Orang tua pun mungkin baru sempat melihat buku pelajaran setelah hari yang panjang. Ketika semua orang sedang berusaha menyelesaikan urusannya, pertanyaan sederhana justru mudah terlewat: bisakah kamu membaca tulisan di papan itu?

Pertanyaan tersebut tidak menjamin jawaban yang mudah. Kalau anak menjawab bisa, penyebab kesulitannya perlu dicari di tempat lain. Jika ternyata ia membutuhkan pemeriksaan mata, kacamata pun tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan belajar. Hasil penelitian di China tadi mengingatkan kita bahwa manfaatnya nyata, tetapi terbatas.

Kita melihat hasil kerjanya lebih dahulu: tugas yang terlambat, jawaban yang keliru, halaman yang belum penuh. Padahal keadaan yang mendahului hasil itu belum tentu kita ketahui.

Anak yang kesulitan melihat papan tulis tetap harus belajar seperti teman-temannya. Ia masih bisa salah, kurang memahami penjelasan, atau memerlukan bantuan lain. Namun sebelum kekurangannya dijadikan kesimpulan tentang dirinya, ada baiknya kita mengetahui apa yang sebenarnya dapat ia lihat.

Pada pelajaran berikutnya, guru akan kembali menulis di papan. Dari depan kelas, huruf-huruf itu tampak sama. Dari bangku anak-anak yang menghadapnya, belum tentu demikian.

Bagikan Catatan Ini