Suar Berita
Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Perwira Menengah TNI AD

Pengamat komunikasi strategis, hubungan internasional, serta perkembangan teknologi dan masyarakat.

Sosial

Hari Esok Tukang Becak Itu

2 dibaca
Bagikan:
Hari Esok Tukang Becak Itu

Pada masa awal peredaran Oeang Republik Indonesia, surat kabar Rakjat memberitakan seorang tukang becak di Jakarta yang lebih memilih dibayar dengan uang Republik daripada uang NICA. Kisah itu kemudian dikutip dalam buku sejarah Bank Indonesia. Namanya tidak tercatat. Yang tersisa hanya pilihannya.

ORI mulai berlaku pada 30 Oktober 1946. Uang Republik itu dijuluki uang putih, sementara uang NICA yang diedarkan pihak Belanda dikenal sebagai uang merah. Dua-duanya beredar ketika belum ada yang tahu siapa yang akan bertahan. Uang yang diterima di satu tempat belum tentu diterima di tempat lain.

Delapan puluh tahun kemudian, kita membaca kisah itu dengan mengetahui akhir ceritanya. Republik bertahan. Dari tempat kita sekarang, pilihan tukang becak tadi mudah terlihat sebagai sikap yang besar. Padahal ia tidak tahu apa-apa tentang akhir cerita itu. Besoknya, barangkali, ia tetap harus mengayuh becak dari pagi.

Kita sebenarnya sering berada di posisi yang mirip, meski taruhannya jauh lebih kecil. Bayangkan seorang juru masak hotel di Yogyakarta yang ditawari pekerjaan di Balikpapan. Gajinya lebih baik. Malam itu ia dan istrinya duduk di depan buku catatan pengeluaran, menghitung sampai larut, lalu berhenti lama di satu baris: uang sekolah anak.

Beberapa hari kemudian ia membalas pesan itu. Ia menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Tidak ada yang istimewa ketika pesan itu terkirim. Pagi berikutnya ia masih datang ke dapur hotel yang lama dan memotong bawang untuk sarapan tamu, seperti biasa.

Kalau beberapa tahun kemudian hidupnya membaik, orang akan menyebut keputusan itu berani. Kalau tidak, sebutannya bisa lain lagi. Padahal pada malam ia menekan tombol kirim, yang ada hanya hitungan di buku catatan dan keyakinan yang tidak pernah benar-benar bebas dari ragu. Di rumah lain, hitungan yang sama bisa berakhir dengan keputusan untuk tetap tinggal, dan kita jarang tahu apa yang sedang dijaga oleh keputusan itu.

Kita sendiri barangkali pernah menyesali sesuatu. Melihat jalan yang dulu tidak kita ambil ternyata membawa orang lain ke tempat yang lebih baik. Sekarang kesempatan itu tampak terang. Waktu ia datang, bentuknya masih kabut. Kita ingat apa yang hilang, tetapi lupa apa yang waktu itu sedang kita jaga.

Tentu ada keputusan yang memang ceroboh. Ada kesempatan yang lewat hanya karena takut, ada risiko yang diambil tanpa memikirkan orang lain. Berhasil pun tidak otomatis berarti dulu kita menimbang dengan benar. Dan orang yang memutuskan sudah harus hidup bersama akibatnya, jauh sebelum orang lain selesai menilai. Ia tetap menjawab pesan, tetap mengantar anak. Hidup tidak berhenti hanya karena seseorang baru saja mengambil keputusan besar.

Tentang tukang becak itu, kita tidak tahu apakah ia menerima uang Republik karena yakin, karena berhitung, atau karena hal lain. Kita tidak perlu mengarang jawabannya. Yang tercatat hanya seorang pekerja yang memilih dibayar dengan salah satu dari dua uang, ketika masa depan negeri masih diperebutkan. Catatan itu tidak bercerita tentang hari-hari sesudahnya. Kita tidak tahu ke mana uang itu kemudian berpindah tangan.

Bagi kita, itu kisah dari masa lalu. Baginya, saat itu, hari esok masih harus dijalani.

Bagikan Catatan Ini