Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Perwira Menengah TNI AD

Pengamat komunikasi strategis, hubungan internasional, serta perkembangan teknologi dan masyarakat.

Sosial

Di Luar Layar, Ada Masa Kecil

6 menit baca
Bagikan:
Di Luar Layar, Ada Masa Kecil

Anak-anak kita masih bermain. Hanya saja, sebagian lapangannya telah berpindah ke layar.

Di sana mereka bertemu teman, menonton, belajar, berlomba, tertawa, bahkan bertengkar. Dunia yang dahulu banyak dibatasi halaman rumah, sekolah, atau lapangan kini terbuka jauh lebih luas. Dari sebuah gawai, seorang anak dapat menemukan pengetahuan, permainan, musik, bahasa, dan orang-orang dari tempat yang bahkan belum pernah ia kunjungi.

Perubahan itu tidak perlu ditakuti. Anak-anak hari ini memang sedang tumbuh untuk dunia yang jauh lebih digital daripada dunia orang tuanya.

Namun ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan. Ketika semakin banyak masa kecil berlangsung di depan layar, pengalaman apa yang mulai berkurang di luar layar?

Evaluasi UNICEF yang diterbitkan tahun ini menunjukkan bahwa internet telah mengambil tempat besar dalam keseharian anak Indonesia. Hampir seluruh anak yang menjadi rujukan data tersebut menggunakan internet, dengan rata-rata penggunaan sekitar 5,4 jam sehari. Angka itu tentu tidak berarti semua waktu di internet buruk atau setiap anak mengalami kecanduan. Di sana anak juga belajar, berkomunikasi, mencari informasi, dan berkarya.

Maka, menghitung jam saja tidak cukup. Kita perlu melihat apa yang mungkin tersisih: tidur yang cukup, gerak tubuh, permainan, percakapan, atau perjumpaan langsung dengan orang lain.

Banyak hal penting justru dipelajari anak tanpa pernah merasa sedang belajar. Dalam permainan, misalnya, ia harus menunggu giliran dan mengikuti aturan yang disepakati bersama. Kekalahan memperkenalkannya pada kecewa. Perselisihan memberinya pengalaman bahwa hubungan tidak selalu selesai hanya karena dua orang berbeda atau bertengkar. Hari ini berselisih, besok mungkin kembali bermain bersama.

Anak juga belajar membaca wajah. Ia mengenali teman yang sedang marah, kecewa, atau hanya bercanda. Pelan-pelan ia mengetahui kapan dirinya telah melangkah terlalu jauh. Kemampuan semacam ini tumbuh dari perjumpaan yang berulang dengan orang lain.

Rasa bosan pun mempunyai tempatnya sendiri. Ketika hiburan tidak selalu datang dalam satu sentuhan, anak harus mencari sesuatu untuk dilakukan. Kadang ia membuat permainan, mengajak bicara orang di sebelahnya, membaca, keluar rumah, atau membiarkan imajinasinya bekerja.

Tidak ada alasan untuk menganggap masa lalu selalu lebih baik. Teknologi telah memberi anak hari ini kesempatan yang dahulu sulit dibayangkan: pengetahuan dalam genggaman, cara belajar yang beragam, ruang kreativitas, dan hubungan yang melampaui jarak.

Masa depan mereka memang digital. Kebutuhan mereka untuk tumbuh sebagai manusia tetap jauh lebih luas daripada dunia digital.

Pemerintah mulai mencari keseimbangan tersebut. Pada Juli 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 mengenai pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan. Pemerintah menegaskan bahwa pembatasan bukan pelarangan. Gawai tetap dapat mendukung pembelajaran, sementara penggunaannya perlu diatur agar tidak mengganggu konsentrasi dan interaksi sosial murid.

Di ruang digital, PP TUNAS memperluas tanggung jawab perlindungan anak kepada penyelenggara platform. Sebagai salah satu indikator awal implementasinya, pemerintah melaporkan 4,7 juta akun anak telah dinonaktifkan oleh TikTok dan YouTube hingga Juni 2026.

Arah kebijakan tersebut layak didukung. Perlindungan anak di ruang digital tidak akan selesai hanya dengan meminta orang tua berkata, “Sudah, matikan gawainya.” Negara mempunyai kewenangan membuat aturan, platform bertanggung jawab terhadap layanan yang mereka bangun, dan sekolah ikut membentuk kebiasaan.

Regulasi, bagaimanapun, tidak dapat menyediakan kehadiran ayah atau ibu di rumah.

Anak memperhatikan bagaimana orang dewasa menjalani keseharian. Nasihat untuk membatasi gawai akan lebih mudah dipahami ketika ia melihat orang tuanya juga mampu meletakkan telepon saat sedang bersamanya.

Kebersamaan itu tidak harus berupa perjalanan wisata, akhir pekan yang panjang, atau kegiatan yang membutuhkan biaya. Dua puluh menit bermain setelah pulang kerja pun berarti. Begitu pula berjalan bersama pada akhir pekan, mengobrol selama perjalanan, memasak, makan tanpa telepon di meja, atau menemani anak melakukan sesuatu yang ia sukai.

Menjelang tidur tersedia kesempatan lain yang sering terlewat. Membacakan cerita, mendengarkan pengalaman anak sepanjang hari, atau bercakap beberapa menit sebelum lampu dimatikan mungkin terlihat biasa. Bagi seorang anak, saat sederhana itu bisa berarti ada seseorang yang sungguh ingin mendengarkannya.

Banyak orang tua sebenarnya telah melakukan hal-hal seperti ini tanpa pernah menyebutnya sebagai pola pengasuhan. Ada ayah atau ibu yang menyimpan telepon ketika anak mulai bercerita. Ada yang tetap mengantar latihan olahraga pada akhir pekan setelah bekerja sepanjang minggu. Ada pula yang menyempatkan bermain sepulang kantor atau membacakan cerita meski tubuh sudah lelah.

Usaha mereka pantas dihargai. Perhatian seperti itu mungkin tampak kecil bagi orang dewasa. Bagi anak, kebiasaan sehari-hari tersebut bisa menjadi bagian dari ingatannya tentang rumah dan orang tua yang hadir dalam masa kecilnya.

Penghargaan yang sama patut diberikan kepada mereka yang menjalani beban pengasuhan lebih berat, termasuk orang tua tunggal. Mencari nafkah, mengurus rumah, memenuhi kewajiban pekerjaan, dan menata kehidupan pribadi bisa berlangsung dalam hari yang sama. Waktu yang tersisa mungkin sempit. Beberapa menit mendengarkan cerita anak dengan perhatian utuh tetap berharga.

Keterbatasan waktu tidak harus berarti keterbatasan kedekatan.

Ruang di luar layar juga tumbuh dari lingkungan. Pada 19 Agustus lalu, Pemerintah Kabupaten Situbondo menggelar Festival Permainan Tradisional untuk menghadirkan kembali interaksi, kerja sama, dan kebersamaan anak di tengah semakin besarnya penggunaan teknologi digital.

Tentu tidak setiap anak harus kembali bermain kelereng, congklak, atau egrang. Jenis permainannya boleh berubah. Sepak bola, bela diri, seni, pramuka, kegiatan lingkungan, klub sains, dan aktivitas bersama lainnya juga memberi kesempatan kepada anak untuk bergerak, bekerja sama, menghadapi aturan, serta berhubungan langsung dengan teman sebaya.

Pengalaman sosial itulah yang penting untuk dipertahankan.

Kondisi keluarga juga berbeda-beda. Tidak semua orang tua mempunyai halaman luas atau lingkungan yang aman bagi anak untuk bermain. Banyak yang bekerja sepanjang hari. Di sebagian kota, ruang publik terbatas. Gawai terkadang menjadi alat belajar, sarana komunikasi, bahkan pilihan paling praktis ketika alternatif lain sulit ditemukan.

Mencari pihak yang paling salah tidak akan banyak membantu. Lebih berguna memperluas pilihan yang tersedia bagi anak: dunia digital yang aman, rumah yang memberi perhatian, sekolah yang membangun kebiasaan sehat, dan ruang nyata tempat mereka dapat bergerak, bermain, berbicara, mencoba, gagal, serta tumbuh bersama orang lain.

Kemampuan menggunakan teknologi dan kemampuan hidup bersama manusia tidak perlu dipertentangkan. Anak-anak kita akan membutuhkan keduanya.

Kelak mereka mungkin bekerja bersama kecerdasan buatan, memasuki ruang virtual yang hari ini belum kita kenal, dan menggunakan teknologi yang belum diciptakan. Tidak ada alasan menjauhkan mereka dari masa depan itu.

Semoga ketika sampai di sana, mereka tetap membawa pengalaman yang diperoleh dengan benar-benar hidup bersama manusia lain: pernah bermain dan kalah, belajar menunggu dan berbagi, berselisih lalu berdamai, mendengarkan cerita sebelum tidur, serta merasakan ayah atau ibunya benar-benar hadir.

Layar boleh menjadi bagian dari masa kecil mereka. Jangan sampai ia menjadi seluruh masa kecil mereka.

Bagikan Catatan Ini