Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Perwira Menengah TNI AD

Pengamat komunikasi strategis, hubungan internasional, serta perkembangan teknologi dan masyarakat.

Sosial

Keselamatan Dimulai Sebelum Bencana Datang

4 menit baca
Bagikan:
Keselamatan Dimulai Sebelum Bencana Datang

Air sungai berubah keruh.

Seorang kepala kampung yang pernah belajar tentang kesiapsiagaan membaca perubahan itu sebagai tanda bahaya. Ia memberi tahu tetangganya dan meminta warga mengungsi. Tidak lama kemudian banjir datang dan menghancurkan rumah-rumah. Warganya selamat.

BNPB pernah mengangkat kisah itu sebagai contoh bahwa pengetahuan sederhana, ketika disertai keberanian mengambil keputusan, dapat menyelamatkan manusia. Pelajaran serupa terlihat di Malalo, Tanah Datar, pada 2025. Di wilayah yang telah mengembangkan Desa Tangguh Bencana itu, seluruh warga dilaporkan selamat.

Dampak bencana juga dipengaruhi oleh apa yang disiapkan jauh sebelumnya.

Keselamatan sebelum bencana bukan berarti kita dapat menghentikan gempa, hujan ekstrem, atau letusan gunung. Yang dapat dipersiapkan adalah manusia dan sistem di sekitarnya: memahami risiko, mengenali peringatan, mengetahui jalur evakuasi, memperhatikan kelompok rentan, dan tahu siapa berbuat apa ketika keadaan berubah.

Kesiapsiagaan sering terdengar seperti istilah di ruang rapat. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sesederhana mengetahui rumah mana yang harus didatangi lebih dahulu ketika air mulai naik.

Ketika bencana datang, kita melihat wajah lain dari ketangguhan itu.

Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Hingga 22 Agustus, 5.832 personel TNI, 238 personel Polri, dan 903 relawan dari 104 lembaga telah terlibat dalam penanganannya. Mereka bekerja bersama pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat agar warga terdampak tidak menghadapi bencana sendirian.

Pekerjaan seperti itu tidak selalu dramatis. Ada yang mengangkat logistik, memasak, mendirikan tenda, membawa obat, menjaga komunikasi, membersihkan puing, atau memastikan warga rentan mendapat pertolongan.

Sebagian nama mereka mungkin tidak pernah masuk berita.

Kerelawanan juga mempunyai wajah yang jauh dari sirene.

Di Pamekasan, Budi Cahyono mendirikan Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB), yang kini berkembang menjadi FRPB Madura. Bersama para relawannya, sekitar 12 tahun ia membantu mengantar orang sakit dan memulangkan jenazah warga yang meninggal jauh dari kampung halaman. Telepon dapat datang tengah malam atau dini hari. Jika keluarga yang meminta pertolongan benar-benar tidak mampu, biaya perjalanan dapat ditanggung bersama oleh para relawan dari uang pribadi mereka.

Tidak ada banjir atau gempa.

Hanya ada seseorang yang sakit, keluarga yang kebingungan, atau jenazah yang harus kembali ke rumah.

Di balik pekerjaan sunyi seperti itu ada waktu, tenaga, kendaraan, dan kadang uang pribadi yang diberikan agar orang lain tidak menghadapi kesulitannya sendirian. Para relawan pun tetap menjalani kehidupan sehari-hari mereka sendiri. Justru karena itu, pilihan untuk tetap hadir mempunyai arti.

Salam hormat untuk mereka.

Kisah Budi bukan alasan untuk menjadikan satu daerah sebagai pusat cerita. Ia hanya satu jendela untuk melihat sesuatu yang hidup di banyak tempat di Indonesia: orang-orang yang bergerak karena ada manusia yang membutuhkan pertolongan.

Sebagian datang saat banjir, gempa, longsor, kebakaran, atau erupsi. Yang lain bekerja ketika belum ada kamera: melatih warga, menjaga komunikasi, mengenali risiko, atau membantu masyarakat memahami apa yang harus dilakukan ketika keadaan berubah.

Keikhlasan mereka tidak berarti semua beban harus dibiarkan mereka tanggung sendiri. BNPB pada Februari 2026 menempatkan relawan sebagai pilar penting dalam sistem penanggulangan bencana ketika menguji publik pembaruan aturan mengenai relawan. Koordinasi, kompetensi, pembinaan, pendanaan, sistem informasi, dan jaminan keselamatan menjadi bagian yang perlu diperkuat.

Teknologi peringatan dini juga terus berkembang. BMKG mendorong prakiraan berbasis dampak agar informasi tidak berhenti pada apakah hujan lebat akan terjadi, tetapi juga menjelaskan dampak yang mungkin muncul dan tindakan yang perlu dilakukan.

Teknologi baru bernilai ketika informasi dipahami dan ditindaklanjuti.

Sirene berguna ketika orang mengetahui ke mana harus bergerak. Peta risiko berarti ketika masyarakat mengenali tempat-tempat yang tergambar di atasnya. Warga mengenal titik kumpul. Ketua RT tahu ada lansia yang tinggal sendiri. Relawan memahami dengan siapa harus berkoordinasi. Pemerintah desa mengetahui sumber daya yang tersedia.

Mereka tidak perlu pertama kali saling mengenal ketika air sudah setinggi dada.

Masyarakat yang siap tidak menggantikan tanggung jawab negara. Negara tetap memegang peran utama membangun sistem, menyediakan kapasitas, mengatur koordinasi, memberi perlindungan, dan memastikan bantuan menjangkau mereka yang membutuhkan.

Ketangguhan tumbuh ketika kemampuan negara, masyarakat, dan relawan sudah terhubung sebelum keadaan darurat datang.

Indonesia mempunyai begitu banyak orang yang bersedia hadir ketika sesama membutuhkan pertolongan. Mereka layak mendapat penghormatan.

Penghormatan terbaik tidak berhenti pada ucapan terima kasih setelah bencana. Ia juga berarti memastikan relawan terlatih dan terlindungi, masyarakat memahami risikonya, serta peringatan dapat berubah menjadi tindakan.

Kita akan tetap membutuhkan mereka ketika bencana datang. Namun harapan yang lebih baik adalah semakin banyak pekerjaan keselamatan dilakukan ketika belum ada rumah yang roboh, jalan yang terputus, atau keluarga yang kehilangan seseorang.

Ketika masih ada waktu untuk membaca tanda, mempercayai peringatan, berpindah ke tempat aman, dan memastikan orang di sebelah kita tidak tertinggal.

Sebab keselamatan dimulai jauh sebelum bencana datang.

Bagikan Catatan Ini