Pada citra Himawari-9 tanggal 7 September lalu, Anak Krakatau tampak kecil di antara Jawa dan Sumatra. Dari titik itu terbentang dua bidang bergaris kuning yang menunjukkan sebaran abu vulkanik pada ketinggian berbeda. Satu teramati hingga sekitar 15 ribu kaki, sementara yang lain mencapai sekitar 50 ribu kaki. Pola sebarannya tidak persis sama.
Saya sempat memperhatikan gambar itu lebih lama dari biasanya. Bukan karena memahami vulkanologi, tetapi karena ada sesuatu yang terasa akrab. Dua sebaran berangkat dari tempat yang sama, lalu keadaan di sepanjang perjalanan membuat jejaknya berbeda. Kita sering melihat manusia dengan cara yang lebih sederhana.
Seorang anak mendapat beberapa nilai buruk, lalu perlahan dikenal sebagai anak yang kurang pintar. Temannya yang sejak awal selalu berada di atas rata-rata segera dianggap akan mempunyai masa depan yang lebih mudah. Beberapa tahun kemudian, keadaan bisa berubah jauh dari perkiraan semula. Yang dulu tertinggal mungkin menemukan bidang yang cocok dengannya. Yang selalu unggul belum tentu terus berkembang dengan kecepatan yang sama.
Hal seperti itu tidak hanya terjadi di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita hampir selalu membuat penilaian. Kesan pertama membantu kita memahami orang yang baru dikenal. Hasil kerja memberi gambaran tentang kemampuan seseorang. Pengalaman masa lalu menjadi bahan untuk menentukan apakah seseorang layak dipercaya kembali. Semua itu wajar. Sulit menjalani hidup tanpa membuat penilaian sama sekali.
Masalah biasanya datang pelan-pelan. Sebuah penilaian yang awalnya hanya menjelaskan keadaan pada satu waktu mulai melekat menjadi identitas. Orang yang pernah ceroboh tetap dianggap ceroboh meskipun sudah lama berubah. Seseorang yang pernah gagal membuka usaha masih sering dikenang melalui kegagalan itu, sementara pekerjaan-pekerjaan baik yang datang sesudahnya tidak selalu mendapat perhatian yang sama.
Mungkin karena pikiran kita menyukai jalan pintas. Setelah sebuah gambaran terbentuk, kita tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mengenali seseorang lagi. Kita tinggal memasukkan kejadian baru ke dalam kotak lama. Kalau sesuai, kita merasa penilaian sebelumnya benar. Kalau tidak sesuai, kadang justru dianggap pengecualian. Di titik itulah perubahan yang sebenarnya sedang terjadi bisa luput.
Seorang anak yang kesulitan membaca pada usia tertentu belum tentu akan selamanya tertinggal. Orang yang pada awal pekerjaannya terlihat canggung bisa menjadi sangat baik setelah menemukan lingkungan yang cocok. Sebaliknya, orang yang selama bertahun-tahun dikenal hebat dapat mengalami masa ketika cara lamanya tidak lagi cukup. Hidup terus menambahkan pengalaman baru, dan manusia tidak selalu meresponsnya dengan cara yang sama.
Ada perbedaan yang cukup besar antara mengatakan seseorang belum mampu melakukan sesuatu saat ini dan menyimpulkan bahwa ia tidak akan pernah mampu. Kalimat pertama masih memberi ruang bagi kenyataan yang bisa berubah. Kalimat kedua sudah membawa kita ke masa depan yang sebenarnya belum kita ketahui.
Kita juga sering melakukan hal yang sama terhadap diri sendiri. Satu kegagalan kadang dianggap sebagai bukti bahwa kita memang tidak berbakat. Satu penolakan terasa seperti pintu yang tertutup selamanya. Padahal boleh jadi yang gagal adalah caranya, waktunya, atau tempatnya. Bisa juga memang ada kemampuan yang harus diperbaiki. Tidak semua kegagalan menyimpan kisah besar di belakangnya, tetapi satu kegagalan juga terlalu sedikit untuk menjelaskan seluruh perjalanan seseorang.
Rapor lama, hasil tes, penilaian kerja, komentar orang lain, bahkan kesalahan yang pernah dibuat tetap mempunyai arti. Semuanya bagian dari perjalanan, tetapi tidak selalu cukup untuk menjelaskan apa yang akan terjadi berikutnya.
Manusia juga tidak tumbuh di ruang kosong. Lingkungan dapat memberi dorongan atau justru mempersempit pilihan. Seseorang bisa berubah setelah bertemu guru yang tepat, pindah ke tempat yang membuatnya merasa berguna, atau mengalami peristiwa yang memaksanya melihat hidup dengan cara lain. Kadang perubahan itu besar. Sering kali justru berawal dari hal yang sangat biasa.
Karena itu ada gunanya sesekali memeriksa kembali kesan lama tentang seseorang. Apakah orangnya memang masih sama, atau kita yang terlalu lama memakai gambaran lama?
Pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Lebih mudah mempertahankan label daripada mengakui bahwa penilaian kita mungkin sudah kedaluwarsa. Namun manusia punya kebiasaan berubah tanpa meminta izin dari pendapat orang lain.
Saya kembali melihat citra Anak Krakatau tadi. Dua bidang sebaran masih ada di sana, berangkat dari titik yang sama lalu membentuk jejak yang berbeda di langit. Tentu manusia jauh lebih rumit daripada abu vulkanik. Kita dapat belajar dari apa yang terjadi, mengambil pilihan baru, atau mengubah arah.
Gambar itu cukup menjadi pengingat kecil. Apa yang terlihat hari ini tetap penting untuk dinilai, tetapi hari ini belum selesai menceritakan hari esok.


