Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Perwira Menengah TNI AD

Pengamat komunikasi strategis, hubungan internasional, serta perkembangan teknologi dan masyarakat

Siapa yang Menentukan Apa yang Kita Anggap Benar? Fitnah, perebutan persepsi, dan perjuangan menjaga kedaulatan batin

6 menit baca
Bagikan:
Siapa yang Menentukan Apa yang Kita Anggap Benar? Fitnah, perebutan persepsi, dan perjuangan menjaga kedaulatan batin

Kita semakin sering membuka layar sebelum membuka jendela.

Dari sana, dunia hadir dalam bentuk yang telah dipilih, dipotong, diberi urutan, dan disesuaikan dengan kebiasaan kita. Kita segera mengetahui apa yang sedang ramai, siapa yang dipuji, siapa yang harus dicurigai, apa yang perlu ditakuti, dan kehidupan seperti apa yang dianggap berhasil.

Semuanya datang begitu cepat sehingga hampir tidak tersedia waktu untuk bertanya: dari mana informasi itu berasal, mengapa ia ditampilkan kepada kita, dan kenyataan apa yang tidak ikut diperlihatkan?

Kita merasa sedang melihat dunia. Padahal, yang hadir mungkin hanya sebagian kecil dari kenyataan—bagian yang paling mampu menarik perhatian, membangkitkan emosi, dan mempertahankan kita di depan layar.

Lalu, siapa yang menentukan apa yang kita anggap benar?

Tidak ada satu pihak yang sepenuhnya menentukan pikiran kita. Namun persepsi kita terus diperebutkan oleh berbagai kekuatan dan kepentingan.

Cara kita memahami realitas dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, keluarga, lingkungan sosial, media, negara, pasar, dan teknologi. Agama seharusnya memberi ukuran moral untuk menilai semua pengaruh tersebut, meskipun pemahaman manusia terhadap agama sendiri tetap dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan kepentingannya.

Pengaruh masing-masing tidaklah sama. Ada pihak yang memiliki kemampuan lebih besar untuk memilih informasi, memperkuat narasi, mengatur urutan, atau menyingkirkan sesuatu dari perhatian publik.

Ada pula kekuatan lain yang sering tidak kita periksa: diri sendiri. Ketakutan, kemarahan, kesombongan, loyalitas kelompok, kebutuhan untuk diakui, dan keinginan untuk selalu merasa benar ikut menentukan apa yang kita terima dan apa yang kita tolak.

Karena itu, perebutan atas kebenaran tidak hanya berlangsung di luar diri kita. Ia juga berlangsung di dalam batin.

Fitnah yang paling dalam tidak berhenti pada penyebaran kebohongan. Ia bekerja ketika kita kehilangan kejernihan untuk membedakan kenyataan dari penampilan, kebenaran dari pengulangan, pilihan dari pengarahan, serta harga diri dari penilaian dunia.

Dalam tulisan ini, fitnah dimaknai sebagai ujian dan penyesatan yang mengaburkan batas antara benar dan salah.

Dalam tradisi Islam, fitnah Dajjal digambarkan sebagai ujian terbesar. Dajjal bukan metafora teknologi, negara, korporasi, kecerdasan buatan, atau sistem digital tertentu, melainkan figur eskatologis yang nyata. Karena itu, tulisan ini bukan tafsir mengenai bentuk atau cara kemunculannya.

Perkara akidah dan fenomena teknologi tidak boleh disamakan. Namun kehidupan modern dapat menjadi ruang untuk merenungkan kelemahan manusia yang membuat penyesatan mudah bekerja—terutama ketika kita kehilangan kesadaran tentang bagaimana cara pandang kita dibentuk.

Manusia tidak pernah melihat seluruh kenyataan sekaligus. Kita memahaminya melalui berbagai penyaring: bahasa, pendidikan, pengalaman, ingatan, media, dan lingkungan sosial. Penyaringan tidak selalu berarti manipulasi. Bahaya muncul ketika kita tidak mengetahui siapa yang membentuk penyaring itu, kepentingan apa yang bekerja di belakangnya, dan kenyataan apa yang terus-menerus tidak diperlihatkan.

Apa yang sering ditampilkan akan terasa penting. Apa yang tidak pernah muncul perlahan dianggap tidak ada. Apa yang diulang berkali-kali dapat terdengar benar meskipun belum diperiksa. Apa yang disukai banyak orang dapat terlihat bermoral hanya karena populer.

Kebenaran kemudian dinilai bukan dari kekuatan bukti, melainkan dari jumlah dukungan. Kredibilitas digantikan oleh ketenaran. Kedalaman kalah oleh kecepatan. Kemarahan lebih mudah menyebar daripada penjelasan yang hati-hati.

Perebutan persepsi jarang berlangsung dalam satu langkah besar. Ia dimulai dari perhatian: apa yang diperlihatkan dan apa yang disembunyikan. Perhatian menggerakkan emosi. Emosi memengaruhi penilaian. Penilaian membentuk pilihan. Pilihan yang diulang menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, kita perlahan membangun gambaran tentang siapa diri kita.

Karena itu, perebutan atas perhatian tidak pernah benar-benar sepele.

Sistem informasi tidak selalu memerintahkan kita untuk berpikir dengan cara tertentu. Ia dapat bekerja lebih halus melalui apa yang ditampilkan, diulang, diberi penghargaan, atau dibiarkan menghilang dari percakapan.

Pengaruh bukanlah pengendalian mutlak. Kita tetap memiliki akal, kehendak, hati nurani, dan kemampuan untuk menolak. Namun kebebasan dapat melemah apabila lingkungan informasi terus-menerus mengeksploitasi ketakutan, kemarahan, kesepian, atau keinginan kita.

Teknologi dapat memperluas pengetahuan, memperbaiki pelayanan, dan memudahkan kehidupan. Namun manfaat itu tidak menghapus kebutuhan untuk memeriksa desain, kepemilikan, model bisnis, dan kepentingan yang bekerja di belakangnya.

Teknologi tidak memiliki tanggung jawab moral seperti manusia. Namun desainnya juga tidak kosong dari nilai. Setiap sistem membawa pilihan tentang perilaku apa yang dipermudah, perhatian apa yang dihargai, serta data apa yang dikumpulkan.

Dalam model bisnis yang bergantung pada perhatian, sesuatu yang paling memancing reaksi sering memperoleh ruang lebih besar daripada sesuatu yang paling benar.

Namun kita tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada sistem. Kita ikut membentuk dunia itu melalui apa yang kita lihat, klik, sukai, bagikan, dan percayai. Algoritma dapat memperbesar kecenderungan kita, tetapi ia bekerja dengan bahan yang kita berikan sendiri.

Kemarahan dipertemukan dengan kemarahan. Kecurigaan diperkuat oleh kecurigaan. Kesombongan diberi pembenaran. Ketakutan diberi musuh.

Kita merasa sedang menemukan kenyataan, padahal mungkin hanya berputar di dalam pantulan diri sendiri.

Kita tidak selalu tertipu karena kebohongan terlalu meyakinkan. Kadang-kadang kita menerimanya karena ia memberi sesuatu yang kita inginkan: rasa paling benar, kelompok untuk dibela, musuh untuk dibenci, atau alasan untuk tidak memeriksa diri sendiri.

Penyesatan tidak selalu datang dalam bentuk yang menakutkan. Ia dapat hadir melalui kenyamanan, hiburan, pengakuan, atau janji bahwa keinginan manusia dapat dipenuhi tanpa batas. Ia pun tidak harus membuat kita menolak kebenaran secara terbuka; kadang-kadang cukup membuat kebenaran terasa tidak sesuai dengan keinginan kita.

Kita kemudian tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” Kita bertanya, “Apakah ini sesuai dengan apa yang ingin saya dengar?”

Kita tidak lagi bertanya, “Apakah ini adil?” Kita bertanya, “Apakah kelompok saya menang?”

Masalahnya bukan semata-mata kekurangan informasi. Kita dapat memiliki akses kepada pengetahuan yang hampir tidak terbatas, tetapi tetap kehilangan kebijaksanaan untuk menilainya.

Ketika proses itu berlangsung terus-menerus, yang berubah bukan hanya pendapat kita tentang dunia. Cara kita memahami diri sendiri pun ikut dibentuk.

Harga diri semakin sering diterjemahkan menjadi angka: jumlah pengikut, tanda suka, pendapatan, produktivitas, peringkat, dan penampilan. Kita belajar memandang diri melalui mata kerumunan. Kehidupan tidak lagi cukup dijalani; ia perlu dipertunjukkan.

Perlahan, kita dapat berhenti melihat diri sebagai makhluk yang memiliki martabat, amanah, dan tanggung jawab. Kita lalu mulai memahami diri sebagai profil yang harus terus diperbarui, dinilai, dan disukai.

Ketika kita kehilangan pemahaman tentang siapa diri kita, kehendak dari luar semakin mudah membentuk kita.

Kedaulatan batin bukan berarti menolak teknologi atau mencurigai setiap informasi. Ia adalah kemampuan untuk tetap menjadi subjek yang menilai, bukan sekadar objek yang dinilai dan diarahkan.

Kebenaran tidak ditentukan oleh popularitas, algoritma, kekuasaan, ataupun keinginan pribadi. Kita berusaha mendekatinya melalui iman, akal, bukti, integritas, dan kesediaan untuk mengoreksi diri.

Menjaga kedaulatan batin dimulai dari kemampuan untuk berhenti.

Berhenti sebelum bereaksi. Berhenti sebelum membagikan. Berhenti sebelum membenci.

Di dalam jeda itu, tanyakan empat hal: dari mana informasi ini berasal? Emosi apa yang sedang dibangkitkan? Kenyataan apa yang belum diperlihatkan? Apakah saya sedang mencari kebenaran atau hanya mencari pembenaran?

Sediakan pula ruang tanpa layar untuk membaca, berdoa, berpikir, atau berbicara tanpa gangguan. Baca sesuatu secara utuh. Periksa sumbernya. Tahan penilaian ketika bukti belum cukup. Dengarkan pandangan yang berbeda. Beranilah mengubah sikap ketika kenyataan menunjukkan hal yang lain.

Iman, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi pengetahuan tentang akhir zaman. Iman menjadi jangkar agar kita tidak menukar kebenaran dengan kenyamanan, tidak menjual kebebasan demi kemudahan, dan tidak menyerahkan harga diri kepada penilaian dunia.

Di tengah dunia yang semakin mampu membaca dan memengaruhi kita, jagalah kebebasan untuk menilai dengan iman, akal, dan bukti—seraya mengingat kepada siapa seluruh hidup kita akan kembali. Sebab kebebasan yang paling penting adalah tidak membiarkan orang lain, kerumunan, atau keinginan kita sendiri menentukan apa yang harus dianggap benar.

Bagikan Catatan Ini