Pagi-pagi, sebuah kantong plastik diletakkan di depan pagar. Isinya bercampur: sisa makanan semalam, kemasan belanja daring, botol minuman, tisu, dan beberapa benda yang mungkin masih dapat digunakan.
Beberapa jam kemudian, kantong itu sudah tidak ada. Halaman kembali bersih. Rumah terasa rapi. Kita pun menganggap urusan sampah selesai.
Namun, ke mana sebenarnya sampah itu pergi?
Pertanyaan ini jarang muncul karena kita terbiasa menghubungkan kebersihan dengan apa yang terlihat. Selama tidak ada sampah di ruang tamu, halaman, atau jalan depan rumah, lingkungan dianggap bersih. Padahal, sampah tidak menghilang ketika diangkut. Ia hanya berpindah ke tempat yang tidak kita lihat.
Di sanalah salah satu paradoks kebersihan bermula. Rumah menjadi bersih setelah sampah diletakkan di luar pagar. Lingkungan terlihat rapi setelah sampah dibawa ke tempat penampungan. Kota tampak tertib setelah sampah dikirim ke tempat pemrosesan akhir. Pemandangan berubah, tetapi persoalannya belum tentu selesai.
Masalah ini kembali memperoleh perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto mengemukakan rencana pemberian insentif hingga Rp 20 miliar kepada kota-kota terbersih. Gagasan tersebut dapat mendorong kepala daerah lebih serius menjaga lingkungan. Insentif juga dapat melahirkan inovasi dan menumbuhkan kebanggaan warga terhadap kotanya.
Namun, ukuran kebersihan sebaiknya tidak berhenti pada jalan yang disapu, taman yang tertata, dan sampah yang cepat diangkut. Kota perlu dinilai pula dari kemampuannya mengurangi sampah sejak dari sumber, menjalankan pemilahan, menyediakan pengolahan, serta menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir atau terbuang ke lingkungan.
Data terverifikasi dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional untuk 2025 mencatat bahwa baru sekitar seperempat sampah telah terkelola, sedangkan tiga perempat lainnya belum tertangani secara memadai. Data persampahan tentu terus diperbarui dan kualitas pelaporan setiap daerah tidak selalu sama. Namun, gambaran tersebut cukup menunjukkan bahwa persoalan sampah jauh lebih besar daripada tumpukan yang sesekali terlihat di jalan.
Terlalu mudah jika seluruh kesalahan dibebankan kepada masyarakat. Orang dapat diminta memilah sampah, tetapi kebiasaan itu sulit bertahan jika layanan pengangkutan dan pengolahan di wilayahnya belum mendukung pemilahan. Warga dapat mengurangi plastik, tetapi banyak pilihan barang masih didominasi kemasan sekali pakai. Petugas dapat membersihkan jalan setiap pagi, tetapi kemampuan mereka akan selalu tertinggal jika jumlah sampah terus bertambah tanpa pengurangan dari sumbernya.
Sebaliknya, tidak adil pula jika seluruh tanggung jawab diserahkan kepada pemerintah. Setiap hari, keputusan kecil kita ikut menentukan besarnya persoalan: mengambil makanan lebih banyak daripada yang mampu dihabiskan, menerima kemasan yang tidak diperlukan, membeli karena tergoda lalu membuang karena bosan, atau mengganti sesuatu yang sebenarnya masih dapat digunakan.
Perilaku pribadi memang tidak dapat menggantikan sistem yang baik. Namun, sistem yang baik pun sulit bekerja tanpa partisipasi masyarakat. Keduanya harus bertemu.
Warga dapat memulai dengan mengurangi dan memilah sampah dari rumah. Pemerintah daerah perlu memastikan pemilahan tersambung dengan pengangkutan dan pengolahan. Produsen harus mengambil bagian atas kemasan yang mereka edarkan. Dunia usaha perlu membuat penggunaan kembali dan daur ulang sebagai pilihan yang mudah sekaligus masuk akal secara ekonomi.
Sementara itu, pemulung, petugas kebersihan, pengelola bank sampah, dan pekerja informal yang selama ini menjaga kota tidak boleh terus ditempatkan pada bagian paling berat dengan perlindungan dan penghargaan paling kecil.
Kebersihan bukan sekadar soal rajin menyapu. Ia merupakan rangkaian keputusan tentang apa yang kita beli, gunakan, buang, angkut, dan olah. Jika salah satu mata rantai itu terputus, sampah akan mencari jalan lain: menumpuk, dibakar, masuk ke sungai, atau berakhir di ruang hidup masyarakat yang jauh dari perhatian kita.
Cara kita memandang petugas kebersihan juga perlu berubah. Mereka bukan orang yang mengambil alih seluruh tanggung jawab kita. Mereka menjalankan bagian penting dari pelayanan publik. Ketika seseorang membuang sampah sembarangan dengan alasan “nanti juga dibersihkan”, ia sebenarnya sedang memindahkan akibat dari kebiasaannya kepada orang lain.
Barangkali persoalan kita bukan kekurangan nasihat tentang kebersihan. Sejak kecil, kita telah diajarkan membuang sampah pada tempatnya. Namun, pelajaran itu belum cukup menjawab persoalan hari ini. Setelah sampah dibuang pada tempatnya, masih ada pertanyaan berikutnya: apakah sampah tersebut dipilah, diangkut, dan diolah dengan benar?
Lomba kota terbersih dapat menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan itu. Penilaian sebaiknya mempertimbangkan bukan hanya tampilan ruang publik, melainkan juga pengurangan sampah, keterhubungan sistem pengelolaan, perlindungan terhadap pekerja, partisipasi warga, dan tanggung jawab produsen.
Dengan ukuran seperti itu, lomba tidak hanya menghasilkan kebersihan menjelang penilaian. Ia dapat mendorong perubahan yang tetap bekerja setelah penghargaan diberikan dan perhatian publik beralih ke persoalan lain.
Kota yang benar-benar bersih bukan hanya kota yang berhasil mengangkat sampah dari jalan. Ia adalah kota yang mampu mengurangi apa yang dibuang dan bertanggung jawab atas apa yang tersisa.
Besok pagi, mungkin kita kembali meletakkan sebuah kantong di depan pagar. Petugas akan datang, mengangkatnya, lalu membawanya pergi. Halaman kita kembali bersih.
Namun, sebelum kantong berikutnya penuh, perhatikan apa yang kita masukkan ke dalamnya. Kurangi yang sebenarnya tidak diperlukan, gunakan kembali yang masih layak, dan pisahkan sampah sesuai layanan yang tersedia. Cari tahu pula ke mana sampah dari lingkungan kita diangkut dan bagaimana akhirnya dikelola.
Kota bersih tidak dimulai ketika petugas kebersihan datang. Ia dimulai dari keputusan kita sebelum sesuatu menjadi sampah, lalu dilanjutkan oleh sistem yang memastikan sisanya benar-benar dikelola. Jangan biarkan tanggung jawab kita berakhir hanya karena sampah sudah tidak lagi berada di depan mata.


