SUARBERITA.COM - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD angkat bicara terkait polemik yang mencuat setelah nama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah ikut menjadi sorotan dalam penyidikan yang dilakukan Polri. Menurut Mahfud, dinamika antarlembaga penegak hukum seharusnya dimanfaatkan untuk mengungkapkan praktik korupsi, bukan justru saling menutupi.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari SuaraPemred dari sebuah podcast, Mahfud mengatakan, “Saya sebenarnya lebih senang jika para politisi, orang dekatnya Pak Prabowo saling bermusuhan dan bertengkar, kemudian saling bongkar. Satu-satu saling bongkar (korupsi), ya kemudian hancur.” Ia juga menambahkan, “Setan ketemu setan, daripada saling melindungi ya itu malah tidak bagus.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah perhatian publik terhadap penyidikan sejumlah perkara korupsi yang sedang ditangani aparat penegak hukum. Mahfud menilai keterbukaan dalam mengungkap dugaan tindak pidana korupsi jauh lebih penting dibanding menjaga kepentingan kelompok atau institusi tertentu.
Di sisi lain, proses hukum terhadap pihak-pihak yang dikaitkan dalam perkara ini masih terus berjalan. Seluruh pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Masyarakat pun diimbau menunggu informasi resmi dari aparat penegak hukum agar tidak terpengaruh oleh spekulasi yang beredar.

