Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Istana Ikut Pantau Kasus 4 Peserta SPPI Meninggal, DPR Desak Evaluasi Total Latsarmil

M Rayhan Wildani K27 Juni 202613.00 WIB
Istana Ikut Pantau Kasus 4 Peserta SPPI Meninggal, DPR Desak Evaluasi Total Latsarmil

SUARBERITA.COM - Empat peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Peristiwa ini tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan, pengawasan, dan aspek keselamatan dalam pelaksanaan program tersebut.

Kasus ini langsung menjadi perhatian pemerintah hingga DPR. Presiden Prabowo Subianto disebut terus memantau perkembangan penanganannya, sementara evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan tengah dilakukan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa setiap tahapan program akan dievaluasi apabila ditemukan prosedur yang perlu diperbaiki.

"Kalau evaluasi jelas dong. Semua proses akan kita perbaiki kalau memang ditemukan prosedur yang kurang tepat. Kalau mengarah pada kelalaian, itu juga menjadi bagian dari evaluasi," ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat dilansir dari kompas(26/6).

Meski demikian, pemerintah menyampaikan hingga saat ini belum menemukan indikasi adanya kelalaian dalam penyelenggaraan latihan. Prasetyo juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia dan menegaskan hasil investigasi akan menjadi dasar dalam menentukan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan perubahan pola pelatihan.

Senada dengan itu, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman menjelaskan bahwa seluruh peserta sebenarnya telah melalui pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti latihan. Namun, menurutnya kondisi fisik maupun mental setiap peserta bisa berbeda saat menghadapi proses pelatihan.

Di sisi lain, kalangan legislatif meminta evaluasi tidak berhenti pada investigasi penyebab kematian semata. Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menilai materi pelatihan harus disesuaikan dengan tugas yang akan dijalankan para peserta sebagai calon manajer koperasi.

Menurut Hasanuddin, latihan dasar kemiliteran tetap memiliki nilai dalam membangun disiplin, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan. Namun, aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama melalui pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat, pengawasan medis selama latihan, hingga penyesuaian intensitas kegiatan fisik.

"Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal," tegas TB Hasanuddin.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter generasi muda memang membutuhkan kedisiplinan dan ketangguhan. Namun di saat yang sama, keselamatan peserta tetap harus menjadi fondasi utama dalam setiap proses pendidikan dan pelatihan. Evaluasi yang dilakukan pemerintah diharapkan mampu memastikan peristiwa serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!