Suar Berita
Cari berita
© 2026 Suar Berita
5 artikel ditemukan
Muktamar NU melalui sidang pleno V menyepakati pemilihan Ketua Umum PBNU memakai mekanisme AHWA, menegaskan tradisi musyawarah, menghindari politik uang, dan menjaga marwah organisasi sesuai prinsip keulamaan.
Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 akan menjadi salah satu agenda utama Muktamar ke-35 NU pada Sabtu (29/8/2026) malam.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan. Forum yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026 ini menjadi ruang tertinggi bagi NU untuk menentukan arah organisasi dalam lima tahun mendatang, termasuk menetapkan kepengurusan baru dan berbagai rekomendasi organisasi. Hal tersebut juga ditegaskan dalam laman resmi Muktamar NU.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan Presiden Prabowo Subianto tidak memberikan dukungan maupun restu kepada kandidat mana pun dalam pemilihan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU).
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerbitkan instruksi nasional kepada seluruh pengurus dan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) untuk menggelar munajat, riyadhoh, dan doa bersama menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU yang akan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026.