Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Karhutla Makin Meluas, Kabut Asap Mulai Ganggu Penerbangan di Kalimantan

M Rayhan Wildani K31 Agustus 202612.15 WIB
Karhutla Makin Meluas, Kabut Asap Mulai Ganggu Penerbangan di Kalimantan

SUARBERITA.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membawa dampak luas bagi masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan. Selain mengganggu kualitas udara dan aktivitas warga, kabut asap yang semakin pekat kini mulai berdampak pada sektor transportasi udara.

Dilansir dari detik, General Manager Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya I Made Darmawan mengatakan gangguan jarak pandang akibat kabut asap membuat sejumlah penerbangan mengalami berbagai penyesuaian operasional, mulai dari Return to Base (RTB), go around, holding, hingga menunggu di bandara asal.

Sebelumnya, sedikitnya empat penerbangan Super Air Jet dari Palangka Raya menuju Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang dinyatakan batal beroperasi pada Sabtu dan Minggu akibat kondisi cuaca dan jarak pandang yang belum memungkinkan untuk penerbangan secara aman.

Gangguan serupa juga terjadi di sejumlah bandara lain di Kalimantan. Sebelumnya, penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, bahkan sempat dibatalkan selama beberapa hari akibat jarak pandang yang berada di bawah batas aman penerbangan. Data resmi bandara menyebut jarak pandang sempat berada pada kisaran 1,5 hingga 4 kilometer, sementara kebutuhan minimum operasional bandara tersebut sekitar 5 kilometer.

Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana dampak karhutla dapat merembet ke berbagai sektor. Asap bukan hanya membuat udara tidak sehat dan mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat memengaruhi keselamatan perjalanan udara ketika jarak pandang menurun.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebelumnya telah mengingatkan bahwa visibility merupakan salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan. Jika jarak pandang berada di bawah batas operasional yang dipersyaratkan, penerbangan dapat ditunda, dialihkan, maupun dibatalkan.

Karena itu, penanganan karhutla menjadi semakin penting. Upaya pemadaman dan pencegahan tidak hanya berkaitan dengan menjaga kawasan hutan dan lahan, tetapi juga melindungi masyarakat dari dampak asap sekaligus memastikan aktivitas ekonomi, pendidikan, transportasi, hingga penerbangan tetap berjalan.

Kementerian Perhubungan juga meminta operator penerbangan dan pengelola bandara terus memantau kondisi jarak pandang serta menyesuaikan operasional berdasarkan situasi aktual. Langkah tersebut diperlukan agar dampak kabut asap tidak berkembang menjadi persoalan keselamatan yang lebih besar.

Karhutla pada akhirnya bukan sekadar persoalan api di kawasan hutan dan lahan. Ketika asap semakin tebal, dampaknya dapat menjalar ke ruang hidup masyarakat dan berbagai layanan publik, termasuk transportasi udara.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!