SUARBERITA.COM - Gelombang demonstrasi nasional yang diorganisasi gerakan Italia in Piazza guna memprotes tingginya biaya hidup, harga bahan bakar, dan beban pajak di berbagai kota Italia diwarnai aksi anarki hingga berujung kerusuhan.
Kepolisian negara Italia menangkap 28 orang, termasuk 12 anak di bawah umur, akibat kerusuhan demonstrasi di wilayah kota Milan, Turin, dan Bologna. Sebanyak 197 orang diidentifikasi, 43 dilaporkan ke otoritas peradilan, serta 141 aparat penegak hukum terluka. Aksi di Milan melibatkan 5.000 massa, memicu penjarahan toko dengan perkiraan kerugian mencapai lebih dari 500.000 euro, hancurnya kendaraan Carabinieri, dan penangkapan 17 orang. Di Turin, polisi mengamankan pria dewasa dan tiga remaja pembawa bom molotov usai kerusuhan di kawasan Stasiun Porta Nuova, sementara di Bologna lima remaja diringkus. Kerusuhan juga meluas hingga Brescia dan Bergamo.
Perdana Menteri Giorgia Meloni menyampaikan solidaritas kepada aparat serta mendesak oposisi tegas mengecam kekerasan, sembari mengakui sebagian besar warga berdemo secara damai. Menyikapi situasi ini, Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini menegaskan, "Partai Liga akan kembali mengajukan usulan di parlemen yang mewajibkan penyelenggara demonstrasi berisiko memberikan jaminan keuangan untuk menanggung potensi kerusakan." Ungkap Giorgia, dikutip dari Liputan 6 pada Senin (19/10/2026).
Di tingkat daerah, Wali Kota Milan Giuseppe Sala menyatakan bahwa keluhan warga dapat dipahami, tetapi kekerasan dan pengrusakan kota sama sekali tidak dapat dibenarkan. Hal senada diungkapkan Wali Kota Bologna Matteo Lepore yang mengecam keras anarkisme tersebut. Lepore menegaskan, "Kami mendesak kaum muda untuk menjauh dari pihak-pihak yang menjadikan demonstrasi sebagai dalih untuk melakukan tindakan kekerasan." Tambah Giuseppe.
Pemerintah Italia kini terus memperketat pengamanan di berbagai kota serta mengevaluasi aturan hukum penyelenggaraan unjuk rasa demi mencegah kerusuhan berulang.

