SUARBERITA.COM - Kehadiran personel TNI di tengah aksi unjuk rasa mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, sempat memicu perhatian luas. Banyak pihak menyoroti keterlibatan militer dalam pengamanan demonstrasi sipil, bahkan muncul spekulasi di media sosial bahwa keberadaan mereka terkesan intimidatif bagi peserta aksi.
Menanggapi keriuhan tersebut, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Muhamad Nas, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pengerahan prajurit di lapangan bukan inisiatif sepihak, melainkan tindak lanjut atas permintaan resmi dari pihak kepolisian guna memberikan dukungan pengamanan.
"Adapun pengerahan TNI atas dasar permintaan untuk membantu," tutur Nas saat dikonfirmasi, dikutip dari liputan6 Sabtu (13/6/2026).
Nas menekankan bahwa TNI tidak memiliki wewenang untuk menangani massa aksi secara langsung. Sesuai dengan prosedur yang berlaku, garda terdepan dalam menjaga ketertiban selama demonstrasi tetap berada di tangan aparat kepolisian. TNI hanya disiagakan untuk memberikan bantuan apabila situasi di lapangan memerlukan dukungan tambahan.
"Penanganan demo adalah tanggung jawab kepolisian. Artinya tetap polisi di depan," jelasnya.
Sebelumnya, sejumlah video yang memperlihatkan personel TNI di lokasi aksi sempat viral dan memicu perdebatan di dunia maya. Sebagian warganet menilai kehadiran militer dalam kegiatan penyampaian pendapat di ruang publik kurang tepat dan berlebihan.
Sebagai kesimpulan, TNI menegaskan bahwa peran prajurit dalam demonstrasi hanyalah sebagai bala bantuan bagi Polri, bukan sebagai pihak yang melakukan tindakan represif terhadap massa. Hal ini sekaligus menjadi penegasan bahwa wewenang utama penanganan unjuk rasa tetap berada di bawah kendali penuh kepolisian.

