SUARBERITA.COM - Kemarau panjang mulai membuat petani di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, harus bekerja lebih keras mempertahankan tanaman mereka. Menyusutnya air Telaga Merdada membuat sumber pengairan yang selama ini diandalkan warga semakin terbatas.
Telaga yang berada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, itu memiliki luas sekitar 25 hektare. Keberadaanya menjadi sangat penting bagi sekitar 200 petani dari Karangtengah, Butuh, dan Bakal yang memanfaatkannya untuk mengairi lahan pertanian.
Di tengah permukaan air yang terus turun, petani menggunakan mesin pompa untuk mengambil air dari telaga. Air tersebut kemudian dialirkan menuju kebun-kebun, terutama lahan yang ditanami kentang.
Bagi petani, menjaga tanaman tetap mendapatkan air bukan perkara sederhana. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar pompa, sementara kebutuhan penyiraman tetap harus dipenuhi agar tanaman tidak mengalami gangguan pertumbuhan.
Salah satunya Zaenuri, petani asal Karangtengah. Selama dua bulan terakhir, ia mengandalkan air Telaga Merdada untuk mengairi lahan kentangnya yang memiliki luas sekitar 2.500 meter persegi.
Setiap hari, pompa yang digunakan Zaenur membutuhkan sekitar tujuh liter Pertalite. Kondisi itu membuat biaya yang harus dikeluarkan semakin besar ketika musim kemarau belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
“Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” kata Zaenuri, dikutip dari Mongabay.
Perjuangan serupa juga dilakukan petani lainnya. Air dari telaga harus dipompa dan dialirkan menuju lahan yang lokasinya cukup jauh. Ketika persediaan air berkurang, kebutuhan untuk mempertahankan tanaman justru tidak ikut berkurang.
Situasi tersbeut membuat kemarau terasa semakin berat bagi petani. Selain menghadapi ancaman kekurangan air, mereka juga harus menanggung kenaikan ongkos produksi akibat penggunaan mesin pompa dan bahan bakar.

