SUARBERITA.COM - Masyarakat diminta tidak menganggap pikun pada usia lanjut sebagai kondisi yang selalu wajar. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan perubahan fungsi kognitif perlu mendapat perhatian di tengah bertambahnya populasi lansia dan ancaman jutaan kasus demensia di Indonesia pada 2050.
Indonesia mulai memasuki era aging population seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia dan meningkatnya angka harapan hidup.
Dante memperkirakan Indonesia dapat menghadapi sekitar 3 juta hingga 4 juta kasus demensia pada 2050 apabila upaya pencegahan tidak dilakukan sejak sekarang.
"Penduduk demensia Indonesia bisa melonjak menjadi 3 sampai 4 juta pada 2050 kalau kita tidak melakukan ini mulai dari sekarang," kata Dante dalam acara Bergerak Melawan Demensia yang diselenggarakan Alzheimer's Indonesia (ALZI) di Jakarta, Rabu (30/9), dikutip CNN Indonesia.
Secara global, jumlah orang yang hidup dengan demensia juga terus bertambah.
"Secara global WHO memperkirakan ada 50 juta orang dengan demensia dan ada 10 juta kasus (baru) setiap tahunnya," kata Dante.
Menurutnya, meningkatnya angka harapan hidup tidak cukup hanya dipandang sebagai keberhasilan memperpanjang usia manusia.
"Namun tugas kita bukan sekadar memperpanjang usia, melainkan memastikan masa tua yang sehat, mandiri dan menjaga umur," tegasnya.
JANGAN MAKLUM DENGAN PIKUN
Demensia juga membawa konsekuensi bagi keluarga karena dampaknya tidak hanya dialami orang dengan kondisi tersebut, tetapi turut dirasakan orang-orang di sekitarnya.
"Kalau kita tidak mulai dari sekarang, bagaimana menjaga keluarga, kisah dari keluarga, tantangan dan anak-anak," ujar Dante.
Ia mengatakan pencegahan dapat dimulai melalui kebiasaan sehari-hari dengan menjaga aktivitas fisik dan pola makan serta mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit.
"Penjagaan perilaku dan pencegahan terbaik dari penyakit Alzheimer adalah investasi yang harus kita lakukan hari ini melalui aktivitas fisik, menjaga pola makan, mengendalikan tekanan darah, gula darah dan terus mengatur pola kemampuan kognitif kita sehari-hari," jelasnya.

