SUARBERITA.COM - Kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai kembali berjalan pada Senin (31/8/2026). Pemerintah menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi masing-masing satuan pendidikan untuk memastikan keselamatan murid dan guru.
Hal itu disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers virtual, Minggu (30/8/2026).
“Proses belajar akan dimulai besok hari,” kata Berton.
Sekolah yang kondisi bangunannya masih memungkinkan digunakan dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sementara satuan pendidikan yang belum dapat menggunakan ruang kelas karena kerusakan atau kondisi lingkungan masih berisiko dapat menerapkan pembelajaran dari rumah, tempat pengungsian, maupun menggunakan ruang belajar darurat.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebelumnya telah menyiapkan berbagai skema pembelajaran darurat untuk memastikan proses pendidikan tetap berlangsung di tengah situasi pascagempa. Pemerintah juga mengirimkan 50 tenda ruang kelas darurat untuk digunakan di sekolah yang ruang belajarnya belum dapat difungsikan.
Besarnya dampak gempa terhadap sektor pendidikan terlihat dari data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026. Data tersebut mencatat 1.378 satuan pendidikan terdampak di tujuh kabupaten, dengan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan ikut terdampak.
Dari 8.664 ruang kelas yang telah terdata, sebanyak 5.521 ruang kelas atau 63,7 persen mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang kelas di antaranya mengalami kerusakan berat atau hancur total. Selain itu, 502 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Pemerintah memastikan pemulihan sektor pendidikan tetap menjadi bagian dari penanganan pascabencana. Kemendikdasmen juga telah menyatakan sekolah terdampak akan mendapat prioritas dalam program revitalisasi, dengan pendataan tingkat kerusakan menjadi dasar penentuan penanganan.
Dengan dimulainya kembali kegiatan belajar, pemerintah berharap anak-anak terdampak gempa dapat perlahan kembali menjalani aktivitas pendidikan, meski sebagian masih harus belajar dengan fasilitas dan metode yang menyesuaikan kondisi darurat.
