SUARBERITA.COM - Pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan signifikan pada penutupan perdagangan awal pekan. Nilai tukar mata uang rupiah tertekan ke posisi terlemahnya dalam seminggu terakhir setelah kabar mundurnya pimpinan Bank Indonesia.
Pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026, rupiah di pasar spot ditutup merosot 46 poin atau 0,26 persen menuju level Rp 18.009 per dolar AS. Depresiasi ini meluas dibandingkan posisi pembukaan yang berada pada kisaran Rp 17.976 per dolar AS.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa sentimen pasar merespons negatif kepastian pengunduran diri Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang telah menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Prabowo Subianto pada Minggu, 26 Juli 2026.
"Pengunduran diri Perry terjadi di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut turut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik," ujar Ibrahim. Dikutip dari Kompas, Senin (27/7/2026).
Selain pengaruh geopolitik global, sorotan pasar juga tertuju pada independensi bank sentral serta isu ketahanan fiskal nasional. Koreksi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan penurunan paling dalam di kawasan Asia bersama won Korea Selatan.
Dinamika kepemimpinan Bank Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global memicu reaksi negatif pada pasar valuta asing. Pelemahan rupiah hingga melampaui level psikologis Rp 18.000 per dolar AS menjadi indikator perlunya langkah stabilisasi cepat guna menenangkan kekhawatiran para pelaku pasar dan menjaga ketahanan ekonomi nasional.

