SUARBERITA.COM - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, menyoroti lemahnya pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) setelah kembali muncul kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Yahya menilai BGN terlalu berfokus pada pencapaian jumlah pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), namun belum maksimal dalam memastikan kualitas makanan dan keamanan pangan bagi penerima manfaat.
“BGN harusnya fokus pada kualitas bukan kuantitas saja,” ujarnya, Sabtu, 9 Mei 2026.
Program pembangunan 33 ribu SPPG hingga akhir 2026 diketahui ditargetkan untuk menjangkau sekitar 82,9 juta penerima MBG. Berdasarkan data resmi BGN, sebanyak 27.641 SPPG telah beroperasi sejak 6 Januari 2025 hingga 9 Mei 2026.
Menurut Yahya, pengawasan terhadap standar sanitasi dan kelayakan fasilitas harus menjadi perhatian utama.
Pernyataan itu disampaikan menyusul dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan siswa di wilayah Cakung, Jakarta Timur, setelah mengonsumsi MBG dari SPPG Pulogebang 15. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat ada 252 laporan dari orang tua murid, sedangkan 188 siswa telah mendapatkan layanan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyebut hingga Sabtu masih terdapat 26 siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit.
Ia menjelaskan, pihaknya sebelumnya sudah melakukan inspeksi kesehatan lingkungan, pelatihan penjamah makanan, serta penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) terhadap SPPG tersebut.
“Namun, dugaan dari fisik makanan berasal dari sajian pangsit tahu,” ujarnya

