SUARBERITA.COM - KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memegang amanah sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Kiai yang akrab disapa Kiai Miftach itu ditetapkan melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Penetapan tersebut dilakukan secara mufakat oleh anggota AHWA dalam persidangan yang berlangsung pada Ahad (30/8/2026) malam. Keputusan hasil musyawarah kemudian dibacakan oleh salah satu anggota AHWA, KH Anwar Iskandar.
Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar memperpanjang kiprahnya di jajaran tertinggi Nahdlatul Ulama. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2021–2026 dikutip dari NU Online.
KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 1953. Ia berasal dari keluarga pesantren. Ayahnya, KH Abdul Ghoni, dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq di kawasan Rangkah, Surabaya.
Dalam profil yang dipublikasikan NU Online, Kiai Miftach disebut tumbuh dalam lingkungan keluarga kiai. Ia merupakan salah satu dari 13 bersaudara dan sejak kecil mendapatkan pendidikan agama dari lingkungan keluarganya.
Perjalanan pendidikannya kemudian membawanya belajar di sejumlah pesantren. Di antaranya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Pesantren Tebuireng, Pesantren Sidogiri, Pesantren Mranggen di Demak hingga pesantren di Lasem, Rembang.
Kiprahnya di Nahdlatul Ulama juga telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia pernah menjabat Rais PCNU Surabaya pada periode 2000–2005. Setelah itu, Kiai Miftach dipercaya menjadi Rais PWNU Jawa Timur selama dua periode.
Pengalaman organisasinya kemudian mengantarkannya ke tingkat nasional. Ia pernah menjadi Wakil Rais Aam PBNU sebelum dipercaya mengisi posisi Rais Aam dan kemudian terpilih secara definitif dalam Muktamar ke-34 NU pada 2021.
Selain di lingkungan NU, KH Miftachul Akhyar juga pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, ia kemudian memilih fokus menjalankan amanah sebagai Rais Aam PBNU.
Kini, melalui Muktamar ke-35 NU, KH Miftachul Akhyar kembali mendapat kepercayaan sebagai pemimpin tertinggi jajaran Syuriyah PBNU. Bersama kepemimpinan baru PBNU, ia akan mengemban amanah menjaga arah keagamaan dan tradisi keulamaan Nahdlatul Ulama dalam lima tahun ke depan.
