SUARBERITA.COM - Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga laju inflasi, terutama yang dipicu oleh kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food) serta biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memantau berbagai faktor yang memengaruhi inflasi. Menurutnya, tekanan dari kenaikan harga emas mulai mereda, sementara komponen volatile food masih menjadi perhatian.
"Tentu kita melihat beberapa komoditas yang bisa mempengaruhi kenaikan inflasi. Kalau di periode yang lalu kan kita lihat emas naik, tapi kita lihat sudah turun. Kemudian yang masih meningkat itu volatile food," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (14/7), dikutip dari Antara
Untuk menekan inflasi, pemerintah akan memperkuat pengendalian komoditas pangan, termasuk bawang putih. Pemerintah juga mempercepat penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sebagai respons atas kenaikan biaya kemasan yang berdampak pada harga produk makanan.
"Sehingga volatile food termasuk bawang putih itu perlu ditangani secara baik. Dan beberapa yang akibat daripada harga packaging yang naik. Itu yang tadi kita bahas, dengan kita minta supaya PMK (Peraturan Menteri Keuangan)-nya segera dikeluarkan," ujarnya.
Selain itu, pemerintah telah menerbitkan kebijakan pembebasan bea masuk LPG dan suku cadang (spare parts). Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan biaya di sejumlah sektor, termasuk transportasi udara yang turut memengaruhi laju inflasi.
"Mengenai bea masuk LPG yang nol dan juga bea masuk spare parts yang nol. Karena kan salah satu yang juga berpengaruh terhadap inflasi adalah penerbangan, transportasi udara," ujarnya
Airlangga berharap berbagai langkah yang telah disiapkan pemerintah mampu meredam tekanan inflasi dalam beberapa waktu ke depan.

