SUARBERITA.COM - Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga pendataan terbaru, sebanyak 53 orang dilaporkan meninggal dunia dan 135 lainnya mengalami luka-luka.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan korban meninggal tersebar di sejumlah wilayah, yakni Manggarai Barat satu orang, Manggarai Timur 20 orang, Manggarai 25 orang, Nagekeo satu orang, Sikka empat orang, dan Ende dua orang.
"Total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia," kata Abdul dalam konferensi pers.
Selain korban jiwa, BPBD NTT mencatat 7.968 rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga berat. Sebanyak 744 fasilitas umum dan infrastruktur juga terdampak.
Kepala BPBD NTT Mahadin Sibarani mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan dan verifikasi di lapangan terus dilakukan. Kerusakan rumah meningkat tajam dibandingkan laporan 15 Agustus yang mencatat 1.639 rumah rusak.
Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Berdasarkan analisis BMKG, gempa berkekuatan M7,7 itu berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa tersebut.
Aktivitas kegempaan juga masih berlangsung. BMKG mencatat 1.598 gempa susulan hingga Senin (17/8) pukul 07.00 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sebanyak 54 gempa susulan di antaranya dirasakan masyarakat. BMKG memperkirakan aktivitas tersebut akan berangsur meluruh dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Besarnya jumlah gempa susulan membuat proses penanganan dan pemulihan di wilayah terdampak masih harus dilakukan secara bertahap. Pemerintah dan petugas di lapangan juga terus melakukan pendataan untuk memastikan kebutuhan masyarakat serta tingkat kerusakan bangunan dapat dipetakan secara akurat.
