SUARBERITA.COM - Ada satu hal yang mungkin hampir pernah dirasakan banyak orang: baru saja bangun dan menikmati Minggu pagi, tetapi tiba-tiba hari sudah sore. Belum sempat melakukan banyak hal, malam sudah datang dan Senin terasa semakin dekat.
Lalu muncul pertanyaan sederhana, kenapa akhir pekan seperti berjalan lebih cepat?
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Interdisciplinary Economics berjudul “Why Is Friday Better than Sunday?” mencoba melihat alasan mengapa orang cenderung lebih menyukai Jumat dibanding Minggu. Penelitian yang dilakukan Sergio Da Silva, Raul Matsushita, dan Eduarda Korzenowski itu menemukan bahwa salah satu penjelasannya berkaitan dengan kegembiraan terhadap sesuatu yang akan datang. Jumat membawa bayangan akhir pekan yang masih panjang, sedangkan ketika Minggu tiba, waktu libur justru semakin mendekati akhir.
Sederhananya, Jumat terasa menyenangkan karena kita masih punya banyak waktu untuk beristirahat. Sementara Minggu mengingatkan bahwa kebebasan tersebut sebentar lagi selesai.
Itulah sebabnya suasana Minggu pagi dan Minggu malam bisa terasa sangat berbeda. Pagi hari masih ada kesempatan untuk jalan-jalan, bertemu teman, menonton film atau sekadar tidur lebih lama. Menjelang malam, pikiran mulai kembali kepada pekerjaan, sekolah, atau rutinitas yang menunggu keesokan harinya.
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai Sunday Scaries. Cleveland Clinic menjelaskan istilah ini sebagai rasa cemas yang muncul sebelum memasuki kembali pekan kerja. Psikolog Cleveland Clinic, menyebutnya sebagai bentuk kecemasan antisipatif terhadap dimulainya kembali aktivitas kerja. Mungkin itu sebabnya Minggu terasa seperti hari yang paling cepat habis.
Bukan karena waktunya benar-benar lebih pendek, melainkan karena sejak awal kita sudah tahu bahwa setelah Minggu masih ada Senin. Dan ketika malam tiba, rasanya baru sebentar menikmati akhir pekan, tetapi waktu ternyata sudah meminta kita kembali ke rutinitas.
