SUARBERITA.COM - Indonesia mencatat tonggak baru dalam pengembangan industri kendaraan listrik nasional melalui ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ekspor ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi industri berbasis nikel sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana tersebut bersamaan dengan peluncuran 11 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun pada Kamis (8/10).
Pengembangan industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga produksi baterai. Melalui pengembangan rantai industri ini, Indonesia diharapkan dapat memperkuat posisinya dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Dalam acara peluncuran, Prabowo menilai ekspor perdana baterai kendaraan listrik menjadi bukti nyata perkembangan strategi hilirisasi yang dijalankan pemerintah. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dilanjutkan untuk mendorong industrialisasi dan meningkatkan daya saing Indonesia.
“Hari ini ekspor perdana baterai kendaraan listrik adalah langkah penting. Ini adalah bukti nyata bahwa strategi hilirisasi kita benar dan akan kita teruskan dengan sebaik-baiknya,” ujar Prabowo.
Dari 11 proyek hilirisasi yang diluncurkan, empat proyek industri telah memasuki tahap operasional komersial, sedangkan tujuh proyek lainnya mulai memasuki tahap pembangunan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan, nilai investasi empat proyek yang telah selesai mencapai US$3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun. Sementara itu, investasi untuk tujuh proyek yang memasuki tahap pembangunan mencapai US$6,8 miliar.
Besarnya nilai investasi tersebut mencerminkan upaya pengembangan industri pengolahan yang tidak hanya berorientasi pada ekspor bahan mentah, tetapi juga pada produksi barang dengan nilai tambah lebih tinggi.
Weda dan Morowali Jadi Penopang Ekosistem Industri Nikel
Selain IWIP di Maluku Utara, pemerintah terus mengembangkan ekosistem industri nikel melalui Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah. Kedua kawasan industri tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan industri pengolahan mineral dan pembangunan rantai pasok baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Rosan menyebut IWIP dan IMIP memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja ekspor nasional. Aktivitas industri di kedua kawasan tersebut turut memperkuat peran sektor pengolahan mineral dalam kegiatan perdagangan Indonesia.
"Selama ini ekspor yang terjadi dari kawasan ini (IWIP) kurang lebih US$11 miliar. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP, total ekspornya mencapai US$28 miliar atau 10 persen dari total ekspor Indonesia," ujar Rosan dalam acara peluncuran di Halmahera Tengah.
Besarnya aktivitas industri di kedua kawasan tersebut juga tercermin dari kapasitas kelistrikan yang tersedia untuk mendukung kegiatan produksi. Ketersediaan energi menjadi salah satu faktor penting bagi operasional industri pengolahan mineral yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.
Rosan menyebut kapasitas listrik terpasang di IWIP telah mencapai lebih dari 7,1 gigawatt (GW), sedangkan kapasitas di kawasan Morowali mencapai 8,8 GW.
Ia membandingkan kapasitas tersebut dengan angka 13,1 GW yang disebutnya sebagai total konsumsi listrik Singapura. Perbandingan itu digunakan untuk menggambarkan besarnya kebutuhan dan kapasitas energi yang berkaitan dengan aktivitas industri di kedua kawasan tersebut.
"Jadi ini jauh lebih besar daripada seluruh pemakaian total listrik di Singapura yang (sebesar) 13,1 gigawatt. Jadi dua industri ini sudah lebih besar dari Singapura energi listriknya," urainya.
Lebih lanjut, Rosan menjelaskan bahwa investasi di sektor tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik yang terintegrasi. Rantai industri yang dikembangkan mencakup pengolahan bahan baku, produksi komponen baterai, hingga proses daur ulang baterai bekas.
Dengan pengembangan tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga mampu mengambil bagian lebih besar dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik dunia.
"Ini akan menjadikan the whole ecosystem ada di sini. Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik," tegasnya.
Rosan menambahkan, hilirisasi merupakan bagian dari proses industrialisasi yang diharapkan dapat memperluas kemampuan produksi dalam negeri. Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, termasuk fasilitas daur ulang, juga menjadi bagian dari upaya membangun rantai industri yang lebih menyeluruh.
"Dan tentunya hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Di Morowali ini dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan recycle baterainya," imbuhnya.
Pemerintah Tekankan Kepastian Investasi dan Kelestarian Lingkungan
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga kepastian investasi bagi perusahaan yang telah menanamkan modal di Indonesia. Menurutnya, hubungan antara pemerintah dan investor perlu dibangun atas dasar kepercayaan serta kemitraan jangka panjang.
“Adalah masalah kehormatan bagi bangsa Indonesia untuk menjaga mitra-mitra kita. Mitra-mitra kita, kita anggap sebagai saudara-saudara kita,” kata Kepala Negara.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi terhadap pengelolaan kawasan IWIP dan perhatian perusahaan kepada masyarakat di sekitar kawasan industri. Ia menilai pembinaan masyarakat menjadi aspek penting yang perlu dipertahankan dan terus dikembangkan seiring dengan pertumbuhan kegiatan industri.
“Saya melihat pembinaan saudara-saudara terhadap rakyat di sekitar sini sangat baik. Dan ini patut kita dukung dan patut kita teruskan,” ujarnya.
Meski mendukung pengembangan industri dan investasi, Prabowo mengingatkan perusahaan agar tetap mengutamakan keselamatan kerja serta memperhatikan dampak lingkungan dari setiap kegiatan operasional.
Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas air dan udara serta memastikan limbah industri dikelola dengan baik. Dengan demikian, pengembangan industri diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memperhatikan kepentingan masyarakat di sekitar kawasan.
Ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari Weda menjadi salah satu langkah dalam pengembangan industri hilir berbasis nikel di Indonesia. Ke depan, penguatan rantai produksi, peningkatan investasi, dan pengelolaan lingkungan akan menjadi aspek penting dalam memastikan pertumbuhan industri tersebut berjalan secara berkelanjutan.

