SUARBERITA.COM - Indonesia mendorong penguatan kerja sama dengan negara lain untuk membangun sistem transportasi yang efektif, aman, terhubung, dan berbasis digital.
Wakil Menteri Perhubungan Suntana mengatakan pertukaran informasi dan pengalaman antarnegara diperlukan untuk mengembangkan sektor transportasi, termasuk melalui pemanfaatan teknologi baru.
"Satu hal yang paling penting dalam membangun transportasi yang paling bagus dan terhubung adalah kerja sama antarnegara. Saling menukar informasi, saling menukar pengalaman, itulah kenapa kami hadir di sini untuk berbagi pengetahuan, inovasi, termasuk mendengar apa yang telah dilakukan oleh negara-negara lain, mungkin bisa diterapkan di Indonesia," ujarnya, Selasa (22/9), dikutip dari Antara
Pernyataan tersebut disampaikan Suntana saat menghadiri Global Sustainable Transport Forum (GSTF) 2026 di Beijing pada 22-23 September. Forum itu membahas kerja sama global untuk menghadapi tantangan transportasi berkelanjutan dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.
Suntana mengatakan Indonesia mempelajari penerapan digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) dari sejumlah negara, termasuk China. Teknologi tersebut dinilai dapat mendukung peningkatan efektivitas, keamanan, serta ketepatan sistem transportasi.
"Kami banyak belajar dari presentasi beberapa negara. Kami melihat penerapan digitalisasi dan AI yang memang sangat diperlukan untuk membangun transportasi yang lebih efektif, lebih aman, lebih sinergis, dan lebih akurat dalam waktu, termasuk di China ini," ujarnya.
Dalam GSTF 2026, negara-negara peserta mengadopsi "Framework on Global Sustainable Transportation Development and Cooperation Initiative". Kerangka kerja tersebut bersifat terbuka, inklusif, sukarela, dan tidak mengikat.
Indonesia juga mendukung pembentukan platform kerja sama global yang diinisiasi China melalui forum tersebut. Meski demikian, tidak ada kesepakatan bilateral atau MoU antara Indonesia dan negara lain yang dihasilkan dalam pertemuan itu.
"Ada pernyataan bersama dari para kementerian negara yang mengurus transportasi dan hal itu akan kita jadikan pedoman untuk langkah tindak lanjut kerja sama baik antarnegara, maupun multilateral dalam APEC misalnya, jadi kita bisa belajar kemajuan bidang transportasi negara lain," jelas Suntana.
Selain GSTF 2026, Suntana memimpin delegasi Indonesia dalam The 12th APEC Transportation Ministerial Meeting. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia memaparkan upaya penerapan teknologi baru untuk mendukung transformasi digital di sektor transportasi.
Pertemuan menteri transportasi APEC juga menghasilkan "Joint Ministerial Statement" yang menegaskan komitmen negara anggota dalam mendorong teknologi digital untuk membangun sistem transportasi dan konektivitas yang tangguh, inklusif, serta berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.
Dalam forum APEC tersebut, Suntana turut meminta dukungan negara anggota terhadap pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan International Civil Aviation Organization (ICAO) Part III dalam pemilihan ICAO (Extraordinary) Assembly ke-43 pada November 2026.
Di dalam negeri, Indonesia juga terus mendorong penggunaan teknologi dan pengembangan transportasi rendah emisi, antara lain melalui elektrifikasi kendaraan, pembangunan MRT, LRT, BRT, serta integrasi transportasi di Jabodetabek. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat transportasi multimoda dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

