SUARBERITA.COM - Kerja sama pertahanan Indonesia dan China semakin menunjukkan intensitas baru. Setelah latihan bersama TNI dan militer China, hubungan kedua negara kini bergerak lebih jauh ke pertukaran personel, pendidikan militer hingga penguatan latihan bersama. Perkembangan ini menarik dibaca bukan hanya dari sisi pertahanan, tetapi juga dalam peta geopolitik Indo-Pasifik.
Pada Agustus 2026, TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China melakukan latihan navigasi bersama di perairan sebelah timur Taiwan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari meningkatnya interaksi militer kedua negara. Kemlu RI menyebut latihan semacam ini sebagai bagian dari diplomasi maritim untuk membangun kepercayaan antarkedua negara.
Kerja sama tersebut juga bukan sesuatu yang benar-benar baru. Indonesia dan China telah menjalankan kerja sama pendidikan serta latihan militer sejak dekade 1970-an. Sejumlah personel pertahanan Indonesia juga pernah dan tengah mengikuti pendidikan di lembaga militer China.
Yang membuat perkembangan terbaru menjadi sorotan adalah pernyataan Menteri Pertahanan China Dong Jun yang membawa kerja sama tersebut ke konteks geopolitik yang lebih luas.
"Kami akan bersama-sama untuk menggagalkan niat yang jahat dari kekuatan asing," kata Dong Jun dalam pernyataan bersama dengan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Beijing melihat hubungan pertahanan dengan Indonesia bukan semata kerja sama teknis antarmiliter, tetapi juga bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan dan menghadapi tekanan terhadap tatanan regional.
Bagi Indonesia, kedekatan dengan China juga dapat dibaca sebagai bagian dari strategi memperluas pilihan kerja sama pertahanan. Jakarta selama ini tetap menjalankan latihan dengan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat melalui Super Garuda Shield yang melibatkan banyak negara Indo-Pasifik.
Artinya, penguatan hubungan militer dengan Beijing tidak otomatis berarti Indonesia bergeser menjadi sekutu China. Justru, pola tersebut dapat dibaca sebagai strategi hedging. Dalam kajian hubungan internasional, Hedging menurut Evelyn Goh adalah langkah menjaga kerja sama dengan berbagai kekuatan tanpa terikat pada satu blok, sehingga Indonesia tetap memiliki ruang untuk mempertahankan kepentingan dan otonomi strategisnya. Artinya Penguatan hubungan militer dengan Beijing tidak otomatis berarti Indonesia bergeser menjadi sekutu China.
Di tengah persaingan China-Amerika Serikat di Indo-Pasifik, posisi seperti ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan kemampuan militer, memperluas transfer pengetahuan dan pendidikan personel, sekaligus mempertahankan kebebasan menentukan kepentingan strategisnya sendiri.
Karena itu, latihan bersama dan peningkatan pendidikan militer dengan China menjadi penting bukan hanya karena kemampuan tempur yang diperoleh, tetapi juga karena menunjukkan bagaimana Indonesia sedang memperluas jaringan pertahanannya di tengah perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan.
Bagi Jakarta, tantangannya adalah menjaga agar kedekatan tersebut tetap berada dalam kerangka kepentingan nasional, politik luar negeri bebas aktif, serta stabilitas kawasan—tanpa terseret menjadi bagian dari persaingan blok kekuatan besar.
