SUARBERITA.COM - Empat anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia yang menjadi bagian dari kru MT Honour 25 akhirnya kembali ke Tanah Air setelah hampir enam bulan berada dalam penyanderaan akibat pembajakan di Somalia.
Keempat WNI tersebut dibebaskan melalui operasi yang dilakukan otoritas Puntland pada 29 September 2026. Setelah menjalani proses pemulangan, mereka tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (6/10), dalam kondisi selamat.
Kedatangan mereka di Indonesia disambut langsung Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Sugiono.
Empat ABK WNI yang berhasil dipulangkan terdiri atas Ashari Samadikun selaku nakhoda, Wahyudinanto sebagai chief officer, Adi Faizal sebagai second officer, serta Fiki Mutakin. Mereka merupakan bagian dari 17 awak kapal MT Honour 25 yang berasal dari sejumlah negara.
Sugiono menyampaikan rasa syukurnya karena keempat WNI tersebut akhirnya dapat kembali berkumpul dengan keluarga setelah melewati masa yang panjang.
“Setelah melalui perjalanan panjang, saudara-saudara kita bisa kembali dengan selamat ke Tanah Air, ke pangkuan keluarga mereka tercinta,” ujar Sugiono.
Setelah tiba di Indonesia, pemerintah akan memastikan proses kepulangan keempat ABK ke daerah asal masing-masing berlangsung dengan baik. Pemerintah juga akan memberikan perawatan kesehatan yang dibutuhkan setelah mereka menjalani masa penyanderaan.
Proses Pembebasan Melibatkan Diplomasi Panjang
Menlu Arrmanatha Nasir menjelaskan bahwa pembebasan kru MT Honour 25 tidak berlangsung singkat. Proses tersebut melibatkan diplomasi serta koordinasi dengan berbagai pihak, baik di Somalia maupun negara asal para kru kapal.
Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Pelindungan WNI bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Nairobi mulai melakukan berbagai upaya untuk membebaskan MT Honour 25 dan seluruh awaknya sejak 21 April 2026.
Selama proses tersebut, komunikasi dan koordinasi dilakukan secara intensif dengan otoritas serta sejumlah pihak di Somalia. Pemerintah Indonesia juga berkoordinasi dengan perwakilan negara lain yang warganya menjadi bagian dari kru kapal.
Upaya diplomasi dan koordinasi tersebut kemudian berujung pada pembebasan para kru pada 29 September 2026 melalui operasi yang dilakukan oleh otoritas Puntland.
“Sejak awal Kementerian Luar Negeri telah melakukan diplomasi dengan berbagai pihak. Koordinasi kita tidak saja dilakukan dengan Pemerintah Somalia dan pemilik kapal, namun juga dengan pemerintah-pemerintah yang warga negaranya ikut di dalam kru kapal,” kata Arrmanatha.
Sugiono Ikut Tangani Proses Pembebasan
Sugiono juga memiliki keterlibatan dalam penanganan kasus tersebut. Saat proses pembebasan mulai dilakukan, ia masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.
Arrmanatha mengapresiasi peran Sugiono yang ketika itu memimpin langsung proses diplomasi dan perundingan terkait pembebasan para ABK MT Honour 25.
“Pak Menko Sugiono, yang pada saat itu adalah Menteri Luar Negeri, langsung memimpin dan memberikan perhatian yang sangat tinggi dalam proses perundingan dan upaya-upaya pembebasan para ABK ini,” ungkap Arrmanatha.
Selain memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terlibat, Arrmanatha juga menyampaikan penghargaan kepada kapten kapal atas kepemimpinannya selama masa penyanderaan. Apresiasi turut diberikan kepada keluarga para kru yang selama berbulan-bulan menunggu kepastian mengenai kondisi anggota keluarga mereka.
Pemerintah Jaga Komunikasi dengan Keluarga ABK
Selama proses penanganan kasus, Kementerian Luar Negeri bersama Kementerian Perhubungan juga melakukan kegiatan family engagement. Kegiatan tersebut digelar pada 5-7 Mei, 8-11 Juni, dan 15 September 2026.
Pertemuan tersebut dilakukan untuk menjaga komunikasi antara pemerintah dan keluarga para ABK. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan keluarga mendapatkan informasi perkembangan penanganan kasus secara akurat.
Setelah acara penyambutan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kemlu menyerahkan keempat ABK kepada perwakilan keluarga. Mereka kemudian dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju daerah asal masing-masing.
Pemerintah juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Somalia dan otoritas Puntland yang turut mendukung proses pembebasan. Ucapan terima kasih juga diberikan kepada Kementerian Perhubungan, Komisi I DPR RI, perwakilan Indonesia terkait, pemilik kapal, pemerintah negara asal kru lainnya, serta seluruh pihak yang berkontribusi dalam proses pembebasan hingga pemulangan empat ABK WNI tersebut ke Indonesia

