Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Gempa NTT Tak Boleh Putuskan Sekolah Anak, Kemenag Siapkan 16 Ruang Belajar Sementara

M Rayhan Wildani K24 Agustus 202615.15 WIB
Gempa NTT Tak Boleh Putuskan Sekolah Anak, Kemenag Siapkan 16 Ruang Belajar Sementara

SUARBERITA.COM - Gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan persoalan rumah rusak dan kebutuhan logistik. Bagi anak-anak, bencana juga berisiko memutus kegiatan belajar dan membuat mereka kehilangan ruang untuk bersekolah.

Karena itu, pemerintah mulai memberi perhatian khusus pada keberlangsungan pendidikan di wilayah terdampak. Kementerian Agama (Kemenag) menyalurkan 1.000 school kit dan menyiapkan 16 Temporary Learning Space (TLS) atau ruang belajar sementara bagi madrasah yang terdampak gempa.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengatakan pendidikan anak tidak boleh ikut terhenti hanya karena bencana.

“Bencana tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak untuk kehilangan haknya mendapatkan pendidikan,” ujar Suyitno dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).

Data sementara Kemenag menunjukkan terdapat 72 madrasah yang terdampak bencana. Untuk tahap awal, bantuan diarahkan kepada 15 madrasah dengan kondisi kerusakan paling parah.

Di tengah pemulihan pascagempa, Kemenag juga mulai memikirkan bagaimana anak-anak kembali menjalani rutinitasnya. Sebanyak 16 ruang belajar sementara disiapkan untuk madrasah yang terdampak, sehingga kegiatan pendidikan dapat digelar tanpa harus menunggu seluruh bangunan sekolah selesai diperbaiki. Dukungan lain diberikan melalui 1.000 school kit yang diperuntukkan bagi peserta didik terdampak.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya soal memastikan warga mendapatkan makanan, tempat tinggal sementara, atau layanan kesehatan. Anak-anak juga membutuhkan kepastian bahwa kehidupan mereka bisa kembali berjalan, termasuk tetap belajar dan bertemu dengan guru serta teman-temannya.

Kehadiran ruang belajar sementara menjadi salah satu cara agar pendidikan tidak ikut menjadi korban dari bencana. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, anak-anak tetap memiliki tempat untuk membaca, belajar, dan menjalani aktivitas sekolah secara bertahap.

Suyitno memastikan Kemenag akan terus melakukan koordinasi dan memetakan kebutuhan madrasah terdampak.

“Kita ingin memastikan madrasah yang terdampak tetap mendapatkan dukungan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pembelajaran,” tuturnya.

Dengan begitu, pemulihan pascagempa tidak hanya diarahkan untuk membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga menjaga agar masa depan anak-anak NTT tidak ikut tertunda akibat bencana.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!