Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Sosial

Fenomena hotel hotel di Bali dijual online, apakah pariwisata lesu?

M Sayyid Ridhwan27 September 202608.16 WIB
Fenomena hotel hotel di Bali dijual online, apakah pariwisata lesu?
sumber : dml.or.id

SUARBERITA.COM - Maraknya hotel yang ditawarkan untuk dijual secara online memunculkan pertanyaan mengenai kondisi industri pariwisata Bali. Gubernur Wayan Koster membantah penjualan properti tersebut dipicu kelesuan sektor wisata.

Ratusan hotel dan vila dengan berbagai kelas dan harga ditemukan ditawarkan melalui platform jual beli dan sewa properti seperti Lamudi. Penawaran serupa juga ditemukan dalam jumlah cukup banyak di OLX.

Properti tersebut tersebar di sejumlah kawasan wisata, mulai dari Badung, Tabanan, Gianyar hingga Karangasem, dengan harga yang ditawarkan mencapai puluhan miliar rupiah.

Pemprov Bali kini melakukan verifikasi untuk mengetahui kondisi sebenarnya di balik banyaknya properti akomodasi yang masuk pasar.

Koster mengatakan telah meminta Dinas Pariwisata Bali berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Badung dan dinas yang menangani perizinan untuk melakukan pendataan.

"Saya lagi menugaskan Kadis Pariwisata Bali untuk koordinasi sama Dinas Pariwisata Badung dan juga Dinas Perizinan untuk mendata mengenai informasi terkait sejumlah hotel yang dijual," kata Koster, dilansir Antara.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Bali I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya mengatakan keputusan pemilik menjual hotel dapat disebabkan berbagai faktor dan tidak bisa dikaitkan dengan satu persoalan saja.

"Bisa saja pertama mungkin tingkat hunian yang terendah. Kedua mungkin juga karena internal dari pemegang saham ingin menjual. Ketiga, ada yang ingin mengetes harganya, berapa nilai properti mereka. Keempat mungkin juga karena tidak bisa mengoperasikan," kata Rai, dikutip detikTravel, Kamis (24/9).

Menurut Rai, transaksi jual beli properti pada dasarnya merupakan hal wajar. Pemilik dapat melepas aset untuk kemudian mengalihkan investasi atau membangun bisnis di lokasi lain.

"Jadi dari perspektif kita biasanya jual-beli itu wajar. Tapi orang akan bangun di tempat lain, bisa saja. Itu kembali kepada masing-masing," imbuhnya

DAYA BELI WISATAWAN BALI DISOROT

Meski demikian, PHRI menilai banyaknya properti akomodasi yang ditawarkan secara bersamaan tetap perlu dicermati dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi dan perkembangan pariwisata.

"Kalau dari kita itu ada juga kita berpikir apakah dengan jumlah yang cukup besar, kenapa seperti itu. Apakah karena situasi dan kondisi ekonomi seperti ini, sehingga mereka memutuskan untuk menjual propertinya," kata Rai.

Rai juga menyoroti profil wisatawan yang datang ke Bali. Menurutnya, sebagian merupakan wisatawan segmen menengah ke bawah yang memilih akomodasi berdasarkan kemampuan dan anggaran.

"Wisatawan yang datang itu artinya wisatawan yang middle low. Sehingga dia menyasar tempat menginap atau akomodasi yang disasar adalah sesuai dengan budgetnya mereka," jelasnya.

Kelompok tersebut tidak selalu memilih hotel berbintang, tetapi dapat menginap di pondok wisata, guesthouse, kos-kosan, rumah kontrakan, hingga hotel bintang tiga ke bawah.

Rai mendorong pemerintah melakukan terobosan untuk menarik lebih banyak wisatawan dengan daya beli tinggi dan tidak berhenti pada wacana mengenai wisatawan berkualitas.

"Maka dari itu, ini jangan jadi wacana untuk mendatangkan wisatawan yang berkualitas, jangan hanya wacana saja. Kita harus tetapkan, lakukan terobosan-terobosan yang bisa mendatangkan wisatawan yang berkualitas itu," tegasnya.

i sisi lain, Pemprov Bali menyatakan sektor pariwisata masih berada dalam kondisi stabil dan mencatat pertumbuhan positif.

Data statistik harian yang disampaikan pemerintah daerah menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara berada di kisaran 20.000-24.000 orang per hari. Kedatangan wisatawan domestik berkisar 12.000-14.000 orang setiap hari.

Koster menilai angka tersebut tidak menunjukkan adanya penurunan signifikan yang dapat langsung dikaitkan dengan fenomena hotel dijual.

Menurutnya, persoalan internal perusahaan dapat menjadi salah satu alasan pemilik melepas properti. Sebuah perusahaan, misalnya, dapat memiliki bisnis di Bali yang berkinerja baik tetapi mengalami tekanan finansial pada usaha lain di luar daerah.

"Pariwisata naik kok, ini pasti kaitannya dengan bisnis mereka, sebelum-sebelumnya ada kejadian bisnisnya tidak hanya di Bali, di Balinya bagus tapi di luar Balinya dia berat, akhirnya keuntungan di sini tersedot ke sana, tidak tahan, tutup yang di sini, dijual," beber Koster.

Pemprov Bali juga membantah anggapan bahwa penjualan hotel disebabkan kelebihan pasokan kamar akibat pembangunan akomodasi yang terlalu masif.

Koster mengatakan tingkat keterisian masih terjaga apabila bisnis dikelola dengan baik dan profesional. Menurutnya, okupansi hotel berbintang di Bali saat ini berada pada kisaran 80-90 persen.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!