Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Efek Domino Rupiah yang Melemah, Potensi Menimbulkan Kenaikan Bahan Pokok Masyarakat

Moh Wasil Haqqullah16 Mei 202622.45 WIB
Efek Domino Rupiah yang Melemah, Potensi Menimbulkan Kenaikan Bahan Pokok Masyarakat

SUARBERITA.COM - Nilai tukar Rupiah kian melemah setiap harinya, tercatat pada perdagangan global Jum'at (15/05/2026) harga nilai tukar 1 USD mencapai Rp 17.601. Efek pelemahan nilai tukar tersebut akan berdampak kepada harga kebutuhan pokok di pasar Indonesia.

Pakar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan "Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik." Dilansir dari Kompas.com (16/05/2026).

Setidaknya menurut Rahma pelemahan harga nilai tukar tersebut akan berdampak kepada harga Mie Instan, Tahu, dan Tempe. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan mendasar yang di konsumsi masyarakat.

Efek Domino Masyarakat Kelas Menengah & Bawah

Menurut penjelasan Rahma, lonjakan harga tahu dan tempe bakal sangat memukul masyarakat lapisan bawah, mengingat kedua bahan pokok tersebut merupakan sumber protein pertama yang paling murah.

Sementara itu, kelompok masyarakat kelas menengah lebih merasakan dampak pada naiknya harga makanan jadi serta biaya bersantap di luar rumah. Tekanan ekonomi ini pun meluas ke sektor energi dan transportasi menyusul kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Rahma memberikan contoh harga Dexlite yang melonjak ke angka Rp 26.000 per liter dan Pertamina Dex yang menyentuh Rp 27.900 per liter, di mana kondisi tersebut memicu pembengkakan biaya logistik dan distribusi barang.

“Kenaikan harga BBM nonsubsidi meningkatkan ongkos angkut barang dari pelabuhan ke pasar. Akibatnya harga sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor,” pungkasnya.

Guru Besar Universitas Airlangga tersebut menjelaskan adanya efek domino dari situasi ini, di mana lonjakan biaya transportasi bakal dibebankan langsung pada harga jual di tingkat konsumen. Rahma juga memperingatkan bahwa warga kurang mampu berisiko menghadapi beban ekstra dari naiknya tarif angkutan umum dan ojek daring. Hal ini dipicu oleh tingginya harga suku cadang kendaraan yang sebagian besar masih bergantung pada komoditas impor.

Buntut persoalan tersebut, menjadi PR bagi pemerintah untuk menekan angka nilai tukar kepada skala stabil. Supaya, masyarakat tidak terkena efek harga bahan pokok yang akan meningkat.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!