SUARBERITA.COM - Buar para penggemar Formula 1 di Indonesia, akhir pekan kemarin bakal diingat sebagai salah satu balapan paling gila dan bikin jantungan dalam sejarah. Bayangkan: balapan bertajuk Bahrain Grand Prix, tapi digelar ribuan meter jauhnya di Sepang, Malaysia, dan hasilnya? Dari sebelum start padam sampai garis finis, sirkuit benar-benar menyajikan drama tiada henti!
Kalau kamu kelewatan balapannya atau ingin mengingat kembali kekacauannya, ini dia rangkuman “rollercoaster” emosi dari Sepang kemarin.
Pra-Race yang Ngeri-Ngeri Sedap: Kekacauan Software & Mobil “Mati Suri”
Belum juga balapan dimulai, penonton sudah disuguhkan pemandangan yang bikin kepala pening. Hujan deras mengguyur Sepang, memaksa delayed start. Saat mobil-mobil akhirnya turun ke trek untuk formation lap di belakang Safety Car, kekacauan sebenarnya dimulai.
Bukan cuma trek yang licin, para driver mendadak dihadapkan pada masalah teknis masif. Beberapa mobil, terutama yang bermesin Ferrari (mencakup tim Ferrari, Haas, hingga Cadillac), mengalami glitch pada software yang membuat mesin seakan “mati suri” di tengah jalan. Lewis Hamilton sempat berhenti total di tengah formation lap sebelum akhirnya mobilnya bisa menyala lagi dan melanjutkan formation lap.
Usut punya usut, masalah ini dipicu oleh putaran rendah di belakang Safety Car yang membuat software kebingungan mengatur traksi dan turbo lag, sampai-sampai Max Verstappen pun harus diperingatkan lewat radio tim untuk terus rev-up mesinnya. Karena situasi makin berbahaya, prosedur start ditangguhkan dan semua mobil ditarik kembali ke dalam pit lane. FIA dan tim harus gercep melakukan emergency software update, bikin balapan tertunda hampir satu jam lebih.
Drama Ban, Strategi, dan Overtaking yang Melimpah
Setelah kekusutan urutan grid beres, balapan akhirnya dimula dengan standing start. Di sinilah spekulasi ban jadi penentu utama. Sebagian besar pembalap memakai ban intermediate, tapi beberapa, seperti Pierre Gasly, sempat nekat mencoba ban slick yang berujung melebar keluar lintasan, sementara Sergio Perez jadi salah satu yang pertama beralih dari slick ke inters.
Saat lampu padam, Max Verstappen sempat kehilangan posisi start-nya, disusul duo Mercedes (Kimi Antonelli dan George Russell) yang langsung melesat ke depan. Pembalap muda berbakat seperti Isack Hadjar dan Liam Lawson juga turut unjuk gigi di barisan depan memanfaatkan kondisi trek yang cepat mengering.
Sepanjang 56 lap, Sepang benar-benar jadi panggung overtake yang berlimpah. Duo Ferrari (Charles Leclerc dan Lewis Hamilton) yang sempat tercecer melibas lawan-lawannya dengan sangat luar biasa hingga barisan atas. Hamilton bahkan sukses melakukan comeback sensasional hingga finis di podium posisi ke-tiga.
Sprint Akhir Ala Baku & Petaka George Russell
Menjelang 10 lap terakhir, tensi naik drastis. Selepas Virtual Safety Car (VSC) dan Full Safety Car akibat insiden yang menimpa Williams, balapan menyisakan sprint pendek menuju garis finis, yang mengingatkan kita semua pada drama ala GP Baku minggu lalu.
Di sinilah drama puncak terjadi. Lando Norris sempat terpelanting ke area kerikil akibat kehilangan kendali di belakang Safety Car, membuatnya harus puas finis di posisi ke-9. Petaka lebih besar menimpa George Russell yang sedang berjuang di grup depan yang tiba-tiba mendapat masalah power unit yang memupus harapan podiumnya dan memaksanya DNF secara dramatis di ujung balapan.
Max Sang Penguasa Sepang
Di tengah badai masalah teknis, strategi pit stop yang rumit, dan insiden bertubi-tubi, Max Verstappen keluar sebagai pemenang setelah melewati pertarungan mental yang luar biasa. Kimi Antonelli menyusul di tempat kedua, sementara Lewis Hamilton melengkapi podium di posisi ketiga. Fernando Alonso juga berhasil mengamankan poin penting dengan finis di posisi ke-8.
Bahrain Grand Prix di Malaysia kemarin sekali lagi membuktikan bahwa kombinasi cuaca tropis Sepang, regulasi mesin baru, dan drama tak terduga selalu sukses menyajikan tontonan F1 yang paling liar musim ini.

