Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Deretan Polemik Badan Gizi Nasional Periode Dadan Hindayana yang Menjadi Sorotan

Moh Wasil Haqqullah3 Juni 202619.33 WIB
Deretan Polemik Badan Gizi Nasional Periode Dadan Hindayana yang Menjadi Sorotan

SUARBERITA.COM - Presiden Prabowo Subianto resmi memberhentikan Dadan Hindayana dari posisinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa, 2 Juni 2026. Posisi kepemimpinan lembaga strategis ini selanjutnya dialihkan kepada Nanik S Deyang. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa perombakan ini merupakan bagian dari evaluasi berkala tata kelola organisasi serta pengawasan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selama satu setengah tahun menakhodai BGN, kepemimpinan Dadan diwarnai oleh tujuh kontroversi utama. Hal ini dilansir dari beritasatu.com Rabu (03/06). Adapun kontroversinya sebagai berikut:

  1. Pernyataan Susu 2 Liter: Dadan memicu kritik publik saat menceritakan pengalaman pribadinya mengonsumsi susu dua liter per hari demi pertumbuhan anak, yang dinilai kurang sensitif terhadap daya beli masyarakat.

  2. Sumber Protein Alternatif: Usulannya pada Januari 2025 untuk memanfaatkan serangga dan ulat sagu sebagai pemenuhan gizi lokal menuai perdebatan standar menu nasional.

  3. Kasus Keracunan: Kemenkes mencatat data mengejutkan dengan adanya 446 kasus keracunan yang berdampak pada 37.693 korban di 36 provinsi hingga Mei 2026. Insiden terbesar menimpa 657 siswa di Jawa Barat pada September 2025.

  4. Pengadaan Logistik Fantastis: Rencana pembelian 20.000 unit motor listrik operasional senilai hampir Rp2 triliun, beserta pengadaan kaos kaki, laptop, dan perlengkapan lainnya memicu kritik. Dadan mengklarifikasi realisasi alat makan SPPG hanya Rp68,94 miliar dari pagu Rp89,32 miliar melalui swakelola Unhan.

  5. Menu Ramadan: Pembagian menu yang dinilai terlalu sederhana (seperti roti dan dua butir kurma) saat bulan puasa 2025 menuai kritik di media sosial.

  6. Ekspansi ke Arab Saudi: Rencana perluasan program ke Jeddah dengan estimasi biaya Rp70.000–Rp94.000 per porsi dikritik karena masalah domestik belum tuntas.

  7. Ketimpangan Target Anggaran: Program MBG diproyeksikan menelan anggaran Rp335 triliun pada 2026. Namun, analisis data Susenas Maret 2025 menunjukkan distribusi manfaat tidak tepat sasaran, di mana 62,9% justru dinikmati golongan atas dan 58,9% terpusat di Pulau Jawa.

Saat ini Dadan Hidayana telah di amankan oleh Kejagung dengan menggunakan rompi pink. Pemberhentian Dadan Hindayana menandai babak evaluasi total terhadap efisiensi anggaran dan ketepatan sasaran program MBG. Pergantian pimpinan ke Nanik S Deyang diharapkan mampu membenahi pengawasan mutu pangan serta transparansi birokrasi di tubuh Badan Gizi Nasional ke depan.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!