Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Bursa Calon Ketua Umum PBNU, Ini Profil Kandidatnya

Moh Wasil Haqqullah26 Agustus 202615.00 WIB
Bursa Calon Ketua Umum PBNU, Ini Profil Kandidatnya

SUARBERITA.COM - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan digelar di Jombang pada 27–31 Agustus 2026, dinamika perebutan kursi Ketua Umum PBNU semakin menghangat. Delapan tokoh dari berbagai latar belakang pesantren, organisasi, hingga pemerintahan resmi masuk dalam bursa calon. Kehadiran mereka mencerminkan luasnya spektrum kepemimpinan NU, dari figur petahana hingga generasi muda yang membawa gagasan baru.

Kontestasi kepemimpinan PBNU semakin hangat jelang Muktamar ke-35. Delapan figur ulama dan tokoh NU tampil sebagai calon Ketua Umum, masing-masing membawa visi, pengalaman, dan basis dukungan yang berbeda. Berikut profil singkat mereka.

1. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)

Petahana Ketua Umum PBNU sejak 2021, dikenal sebagai tokoh moderat dengan pengalaman internasional. Ia pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan aktif dalam dialog lintas agama. Gus Yahya menekankan pentingnya NU sebagai kekuatan moral bangsa.

2. KH Zulfa Mustofa

Lahir di Jakarta, 7 Agustus 1977, ia adalah keponakan KH Ma’ruf Amin. Pernah menjabat Sekjen MUI DKI Jakarta dan kini Wakil Ketua Umum PBNU. Pada 2025, ia sempat menjadi Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU menggantikan Gus Yahya. Rekam jejaknya kuat di bidang fatwa dan pendidikan pesantren.

3. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur. Lahir 1958, ia adalah cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Selain ulama, Gus Kikin dikenal sebagai kiai entrepreneur dengan pengalaman memimpin perusahaan migas dan media.

4. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)

Putra KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU 1999–2014. Ia mengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, dan menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah. Gus Rozin dikenal sebagai penggerak penguatan pesantren, penggagas Hari Santri Nasional, serta aktif di pemerintahan sebagai Staf Khusus Presiden (2017–2019).

5. Prof. Dr. Nasaruddin Umar

Menteri Agama RI sejak 2024, sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 1959, ia adalah akademisi tafsir Al-Qur’an dengan pengalaman internasional di McGill, Leiden, dan Georgetown. Pernah menjabat Wakil Menteri Agama (2011–2014).

6. Gudfan Arif (Gus Gudfan)

Bendahara Umum PBNU periode 2022–2027. Putra KH Abdul Ghofur, Pengasuh Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Ia dikenal sebagai pengusaha tambang dan pernah menjabat bendahara di Pagar Nusa serta RMI PWNU Jatim.

7. KH M Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)

Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang. Lahir 1973, ia aktif berdakwah baik offline maupun online, serta dikenal sebagai budayawan. Pernah menjabat Ketua DPW PKB Jawa Tengah, namun mundur pada 2026 untuk fokus ke pesantren dan NU.

8. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)

Pengasuh Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, cucu KH Bisri Syansuri (pendiri NU). Aktif di PBNU sebagai Katib dan Wasekjen, serta Wakil Ketua PWNU Jatim. Gus Salam dikenal sebagai figur muda visioner dengan gagasan rekonsiliasi total untuk NU.

Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU, Prof Moh Mukri, menilai munculnya banyak nama menjelang muktamar merupakan hal yang wajar. Menurutnya, “Kalau kemudian agak-agak hangat, ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, ya biasalah. Itu justru sekaligus penampakan adanya demokrasi, ada penyampaian aspirasi,” ungkap Prof. Mukri, dikutip dari NU Online Rabu (26/8).

Muktamar NU ke-35 di Jombang bukan sekadar ajang pemilihan Ketua Umum PBNU, melainkan momentum penting bagi arah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Delapan calon yang tampil membawa latar belakang pesantren, politik, hingga pemerintahan, mencerminkan luasnya spektrum kepemimpinan NU.

Dengan basis dukungan yang beragam dari Tebuireng, Denanyar, Kajen, hingga Tegalrejo serta figur nasional seperti Gus Yahya, KH Zulfa Mustofa, dan Prof. Nasaruddin Umar, kontestasi kali ini diprediksi berlangsung ketat. Hasil Muktamar akan menentukan wajah NU ke depan: apakah tetap berakar kuat pada tradisi pesantren, memperluas kiprah di ranah politik, atau memperkuat peran di tingkat global.

Keputusan para muktamirin akan menjadi penentu arah perjalanan NU dalam menjawab tantangan zaman, sekaligus menjaga khidmah organisasi bagi umat dan bangsa.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!