SUARBERITA.COM - Setiap Agustus, suasana kampung di berbagai daerah Indonesia biasanya berubah. Jalanan dihias merah putih, anak-anak berkumpul di lapangan, sementara panjat pinang, balap karung hingga makan kerupuk mulai digelar.
Tapi, pernah terpikir sejak kapan lomba-lomba tersebut menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan?
Ternyata, tradisi lomba 17 Agustus tidak langsung muncul pada 1945. Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat, perlombaan 17 Agustus mulai berkembang pada 1950-an atau sekitar HUT RI ke-5.
Saat itu, masyarakat mulai merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih meriah setelah melewati masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Berbagai permainan rakyat kemudian menjadi bagian dari perayaan tahunan.
Namun, sejumlah permainan yang kini identik dengan 17 Agustus ternyata memiliki sejarah yang lebih panjang.
Panjat pinang, misalnya, sudah dikenal di Indonesia sejak masa kolonial Belanda. ANTARA mencatat permainan tersebut telah terdokumentasi sejak awal abad ke-20. Sementara balap karung juga disebut telah dikenal sejak masa penjajahan dan kemudian berkembang menjadi permainan rakyat.
Begitu pula dengan lomba makan kerupuk. Menurut ANTARA, perlombaan ini mulai dikenal dalam perayaan HUT RI pada era 1950-an, ketika masyarakat Indonesia baru melewati masa perang dan krisis ekonomi. Kerupuk yang murah dan mudah dijangkau kemudian menjadi bagian dari permainan sekaligus simbol kehidupan rakyat di masa sulit.
Kini, lomba-lomba tersebut bukan lagi sekadar hiburan. Panjat pinang mengajarkan gotong royong, tarik tambang mencerminkan kekompakan, sementara balap karung dan makan kerupuk mengingatkan pada ketangguhan masyarakat melewati masa sulit.
Di tengah perubahan zaman, tradisi lomba 17 Agustus akhirnya tetap bertahan karena bukan hanya soal siapa yang menang atau mendapat hadiah. Di balik gelak tawa dan keseruannya, ada cerita tentang perjuangan, kebersamaan, dan cara masyarakat merayakan kemerdekaan.
