SUARBERITA.COM - Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), kerusakan bangunan menjadi salah satu dampak yang paling mudah terlihat. Rumah roboh, fasilitas umum mengalami kerusakan dan sebagian warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka.
Namun, pemulihan setelah bencana tidak sesederhana memperbaiki bangunan yang rusak.
Ada kehidupan masyarakat yang ikut terganggu. Aktivitas ekonomi keluarga bisa terhenti ketika rumah atau tempat usaha terdampak. Anak-anak juga menghadapi perubahan rutinitas karena harus tinggal di pengungsian atau berada jauh dari lingkungan belajar mereka. Persoalan lain yang tidak selalu terlihat adalah kondisi psikologis korban. Pengalaman menghadapi gempa dan gempa susulan dapat meninggalkan rasa takut, terutama bagi anak-anak.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke NTT. Dalam kunjungannya, Gibran membawa enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia untuk memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat terdampak.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan korban bencana tidak berhenti pada bantuan logistik. Pemulihan juga membutuhkan pendampingan agar masyarakat dapat kembali merasa aman dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dari sisi ekonomi, pemerintah juga mulai memikirkan beban yang harus ditanggung warga setelah bencana. Gibran mengupayakan masa tenggang pembayaran kredit bagi masyarakat terdampak yang mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya akibat kondisi ekonomi yang terganggu.
Kebijakan semacam ini menjadi penting karena warga yang kehilangan penghasilan atau mengalami kerusakan tempat usaha tetap memiliki kebutuhan sehari-hari. Tanpa kelonggaran, tekanan ekonomi dapat semakin berat ketika masyarakat sedang berusaha memperbaiki kehidupannya.
Karena itu, pemulihan pascagempa seharusnya dilihat sebagai proses yang menyeluruh. Rumah perlu diperbaiki, fasilitas publik harus kembali berfungsi, aktivitas ekonomi harus bergerak, anak-anak perlu kembali belajar dan masyarakat membutuhkan dukungan untuk memulihkan kondisi psikologis.
Gempa memang menghasilkan kerusakan yang terlihat dalam hitungan detik. Namun, membangun kembali kehidupan masyarakat membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Di titik itulah keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari seberapa cepat bantuan datang, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat terdampak dapat kembali hidup mandiri dan merasa aman.
