SUARBERITA.COM - Bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), gempa tidak hanya mengubah tempat tinggal. Aktivitas sekolah yang biasanya menjadi bagian dari rutinitas harian ikut terdampak. Sebagian harus belajar dari rumah, sementara sejumlah sekolah bahkan digunakan sebagai lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut membuat proses belajar harus menyesuaikan keadaan pascabencana. Pemerintah pun mulai menyiapkan skema pembelajaran darurat agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan meski situasi belum sepenuhnya pulih.
Sekretariat Negara mencatat, hingga 19 Agustus 2026, gempa telah berdampak pada 512 satuan pendidikan, 94.452 murid, serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten. Pemerintah memastikan keselamatan guru dan murid menjadi pertimbangan utama dalam menjalankan kegiatan belajar.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan pemerintah menyiapkan pembelajaran dengan sistem dan kurikulum darurat agar proses pendidikan tetap dapat berlangsung di tengah kondisi bencana.
Gambaran kondisi tersebut terlihat ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi SD Inpres LXXVI Wairklau di Kabupaten Sikka. Sekolah tersebut turut digunakan sebagai posko pengungsian bagi warga terdampak gempa.
Dalam kunjungannya, Gibran turut memastikan kondisi anak-anak yang berada di lokasi. Perhatian terhadap mereka tidak hanya menyangkut kebutuhan sehari-hari, tetapi juga keberlangsungan pendidikan setelah bencana.
Pemulihan anak-anak juga tidak berhenti pada kegiatan belajar. Pemerintah memberikan dukungan psikososial bagi anak terdampak, termasuk melalui pendampingan di posko pengungsian. Kementerian Sosial, misalnya, memberikan layanan dukungan psikososial kepada anak-anak di salah satu posko pengungsian di Nagekeo.
Gibran juga datang ke NTT bersama enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang dilibatkan untuk membantu pemulihan trauma korban bencana.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya normal, memastikan anak-anak tetap belajar menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Sebab, bagi mereka, kembali membuka buku dan mengikuti pelajaran bukan sekadar soal pendidikan.
Itu juga menjadi tanda bahwa kehidupan perlahan harus kembali berjalan.
