SUARBERITA.COM – Kota Bekasi menjadi sorotan internasional setelah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dilaporkan menghasilkan emisi gas metana dalam jumlah besar. Berdasarkan riset terbaru dari Emmet Institute, UCLA, volume emisi metana dari kawasan tersebut mencapai sekitar 6,3 ton per jam sepanjang 2025.
Data tersebut diperoleh melalui pemantauan satelit milik NASA dan Planet Labs yang menganalisis konsentrasi gas rumah kaca di berbagai titik di dunia. Hasilnya, TPST Bantargebang menempati posisi sebagai penghasil emisi metana terbesar kedua di dunia dari sektor tempat pembuangan sampah. Hanya berada di bawah lokasi serupa di Argentina yang mencapai sekitar 7,6 ton per jam, Dikutip dari Katadata, (28/04/2026).
Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Dalam periode 20 tahun, daya pemanasannya bahkan bisa mencapai sekitar 80 kali lipat. Sehingga penghasilan emisi dalam jumlah besar dinilai sangat berbahaya bagi lingkungan.
Selain mempercepat perubahan iklim, emisi metana juga berdampak besar pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Gas ini juga memberi dampak pada pembentukan ozon di permukaan tanah yang dapat memicu gangguan pernapasan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi pembuangan.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan di Indonesia, terutama di wilayah dengan volume sampah tinggi seperti Jabodetabek.

