SUARBERITA.COM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menunjukkan dampak lintas batas. Asap yang terbawa pergerakan angin dari wilayah Indonesia dilaporkan mencapai Sarawak, Malaysia, hingga membuat kualitas udara di kawasan dekat perbatasan memburuk.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup serius adalah Tebedu. Berdasarkan laporan The Borneo Post, indeks polusi udara atau Air Pollutant Index (API) di kawasan tersebut mencapai 206 pada Rabu (12/8/2026). Angka itu sudah masuk kategori sangat tidak sehat dalam sistem pemantauan kualitas udara Malaysia.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla di Kalimantan tidak berhenti pada wilayah yang terbakar. Ketika asap terbawa angin, dampaknya dapat dirasakan hingga wilayah negara tetangga, terutama kawasan Sarawak yang secara geografis berdekatan dengan Kalimantan.
New Straits Times juga melaporkan kondisi berkabut di Sarawak berpotensi bertahan sepanjang pekan apabila jumlah kebakaran di Kalimantan terus meningkat. Situasi itu menunjukkan bahwa faktor cuaca menjadi salah satu persoalan penting dalam perkembangan kabut asap lintas batas.
Kondisi kering yang berlangsung di kawasan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari situasi musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat bahwa pada awal Agustus 2026 curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 80,77 persen wilayah Indonesia. BMKG memperingatkan kondisi hari tanpa hujan yang semakin panjang dapat meningkatkan ancaman kekeringan sekaligus karhutla.
Di tengah kondisi tersebut, arah angin menjadi faktor penting dalam menentukan penyebaran asap. Ketika titik api muncul di tengah lahan yang kering, asap dapat terbawa mengikuti pola angin hingga melintasi batas wilayah.
Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan memadamkan api. Pengendalian titik panas, pencegahan pembakaran lahan, pemantauan cuaca, hingga koordinasi lintas wilayah menjadi penting agar kabut asap tidak semakin meluas dan kembali mengganggu kualitas udara masyarakat di Indonesia maupun negara tetangga.
