SUARBERITA.COM - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kini tak hanya menjadi persoalan di dalam negeri. Kabut asap yang menyeberang ke wilayah Malaysia membuat kualitas udara di Sarawak memburuk hingga berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar.
menurut laporan **Channel News Asia (CNA), **Kondisi tersebut mendorong pemerintah Sarawak menutup hampir 600 sekolah selama dua hari. Kebijakan itu berdampak terhadap sekitar 200 ribu siswa yang harus mengikuti pembelajaran dari rumah. Penutupan dilakukan setelah kualitas udara di sejumlah wilayah masuk kategori sangat tidak sehat.
Kualitas udara di Sarawak juga memburuk hingga masuk kategori tidak sehat. Di Serian, Air Pollutant Index (API) tercatat 194 pada Senin (24/8/2026) dan kemudian sempat mencapai 239, yang masuk kategori sangat tidak sehat. Dalam klasifikasi API Malaysia, angka 101-200 tergolong tidak sehat, sedangkan 201-300 masuk kategori sangat tidak sehat.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Serian, yang berada di Sarawak dan berbatasan dengan Kalimantan. Kondisi kabut asap yang semakin tebal membuat pemerintah setempat meningkatkan langkah perlindungan terhadap masyarakat, terutama anak-anak yang dinilai rentan terhadap paparan udara buruk.
Dikurip dari bernama, Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi isu lintas negara. Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat menggunakan mekanisme ASEAN untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas yang kembali memengaruhi sejumlah wilayah di kawasan tersebut. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan tahunan pemimpin Malaysia dan Brunei pada 22 Agustus 2026.
Malaysia juga mendorong seluruh negara ASEAN memperkuat langkah pencegahan, kesiapsiagaan nasional, serta pemantauan terhadap risiko kabut asap lintas batas. Langkah tersebut mengacu pada ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution yang menjadi kerangka kerja sama regional dalam menangani persoalan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Dengan dampak yang mulai dirasakan hingga negara tetangga, karhutla di Kalimantan kini bukan lagi sekadar persoalan kebakaran di wilayah Indonesia. Kabut asap telah mengganggu kualitas udara, memaksa ratusan sekolah menghentikan pembelajaran tatap muka, serta mendorong Malaysia dan Brunei membawa persoalan tersebut ke tingkat ASEAN.
Situasi ini menunjukkan bagaimana dampak karhutla dapat meluas melewati batas negara. Ketika asap terus terbawa angin dan kualitas udara memburuk, persoalan yang bermula dari titik kebakaran di satu wilayah berubah menjadi masalah kesehatan dan lingkungan yang harus ditangani secara bersama di tingkat kawasan.
