Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
News

Apresiasi Rupiah: Terdongkrak Kebijakan Agresif BI, Mata Uang Garuda Sentuh Rp17.912

Moh Wasil Haqqullah11 Juni 202622.00 WIB
Apresiasi Rupiah: Terdongkrak Kebijakan Agresif BI, Mata Uang Garuda Sentuh Rp17.912

SUARBERITA.COM - Mata uang Indonesia kembali menunjukkan keperkasaannya di pertengahan pekan. Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi (10/6/2026), Rupiah sukses melesat signifikan, didorong oleh sentimen positif dari langkah intervensi taktis Bank Indonesia (BI).

Rupiah sukses menguat tajam sebesar 146 poin atau 0,81 persen, membawanya bertengger nyaman di posisi Rp17.912 per dolar AS. Kinerja impresif ini melawan arus mayoritas mata uang di Asia maupun negara maju yang justru sedang tertunduk lesu di hadapan dolar AS, seperti Yuan China, Ringgit Malaysia, Euro, hingga Poundsterling.

Katalis utama dari unjuk gigi mata uang Garuda ini adalah langkah tegas BI mengerek suku bunga acuan. Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures, meyakini momentum positif ini masih memiliki ruang.

"Rupiah diperkirakan masih berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah BI menaikkan suku bunga serta menjadwalkan rapat mingguan yang memicu harapan BI masih akan agresif menaikkan suku bunga ke depannya. Langkah pemerintah menaikkan harga Pertamax juga positif bagi rupiah," jelas Lukman. Dikutip dari cnnindonesia.com Rabu (10/06).

Meski diuntungkan oleh sentimen domestik, ancaman dari luar tetap membayangi. Lukman memperingatkan, "Namun, eskalasi di Timur Tengah belakangan ini dan kenaikan harga minyak mentah dunia mungkin akan membatasi penguatan rupiah." Untuk hari ini, pergerakan Rupiah diproyeksikan berada dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Keberhasilan Rupiah kembali bangkit ke level Rp17.912 tak lepas dari respons kuat kebijakan moneter BI dan penyesuaian harga BBM domestik. Walaupun sentimen internal sangat mendukung apresiasi, investor diimbau tetap mewaspadai faktor eksternal. Memanasnya konflik Timur Tengah dan fluktuasi minyak mentah dunia berpotensi menjadi rem yang membatasi laju penguatan Rupiah dalam jangka pendek.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!