SUARBERITA.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menyisakan persoalan besar bagi warga terdampak. Bukan hanya kerusakan bangunan dan korban jiwa, hingga kini ratusan ribu warga masih harus bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir terhadap gempa susulan.
Berdasarkan data BNPB yang disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers pada Senin (24/8/2026), sebanyak 180.327 jiwa masih mengungsi akibat bencana tersebut.
“Berdasarkan data BNPB yang disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers pada Senin (24/8/2026), sebanyak 180.327 jiwa masih mengungsi,” demikian data yang disampaikan BNPB.
Besarnya jumlah warga yang meninggalkan rumah menggambarkan dampak gempa yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah NTT. Sebagian warga memilih bertahan di lokasi pengungsian karena kondisi rumah, sementara lainnya masih diliputi kekhawatiran terhadap aktivitas gempa susulan.
Aktivitas seismik pascagempa utama juga masih berlangsung. BMKG mencatat ribuan gempa susulan terjadi setelah gempa utama mengguncang wilayah tersebut. Kondisi ini membuat warga belum sepenuhnya merasa aman untuk kembali ke rumah masing-masing.
Selain persoalan tempat tinggal, kondisi kesehatan pengungsi mulai menjadi perhatian. Salah satu wilayah yang melaporkan gangguan kesehatan pada warga pengungsian adalah Kabupaten Nagekeo.
Berdasarkan data hingga Minggu (23/8/2026), sebanyak 34.256 warga Kabupaten Nagekeo masih berada di berbagai lokasi pengungsian. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo Emerentiana Wahyuningsih mengatakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan selama masa pengungsian. Kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor yang menyulitkan upaya menjaga kesehatan warga, terutama anak-anak.
“Yang paling banyak itu ISPA, demam karena debu. Lalu di tenda pengungsian itu ada anak-anak, ada yang merokok jadi campur aduk. Sudah kena debu, kena asap rokok dan kebanyakan anak-anak yang kena ISPA,” jelas Emerentiana, Senin (24/8/2026), dilansir dari TribunFlores.
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan pengungsi pascagempa tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal sementara. Kepadatan tenda, debu, asap rokok, hingga kondisi lingkungan pengungsian turut menjadi tantangan baru bagi kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, jumlah korban akibat gempa juga masih menjadi perhatian. BNPB mencatat 100 orang meninggal dunia dan 1.603 orang mengalami luka-luka. Sebagian korban luka sebelumnya menjalani perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia.
Dengan jumlah pengungsi yang masih mencapai lebih dari 180 ribu jiwa, penanganan pascagempa kini tidak hanya berkaitan dengan evakuasi dan distribusi bantuan. Pemerintah juga menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan warga yang masih bertahan di pengungsian mendapatkan perlindungan, layanan kesehatan, serta kondisi lingkungan yang layak selama situasi gempa belum sepenuhnya stabil.
