Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Sosial

18 Siswa TK-SD Keracunan MBG, Dapur SPPG Kaliwates Jember Ditutup Sementara

Abd Munib22 Mei 202616.00 WIB
18 Siswa TK-SD Keracunan MBG, Dapur SPPG Kaliwates Jember Ditutup Sementara

SUARBERITA.COM - Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa 18 siswa TK dan SD penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember berbuntut penghentian operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Kaliwates.

Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Jember menutup sementara dapur MBG di Jalan Teratai setelah inspeksi menemukan sejumlah fasilitas tidak sesuai standar dalam petunjuk teknis kelayakan pengolahan makanan.

“Setelah kami tinjau di sini, ternyata ada beberapa hal yang memang tidak sesuai dengan yang ada di juknis itu. Untuk itu, hari ini pengiriman makanan sudah dihentikan,” kata Staf KPPG Jember, Samsudin dikutip dari detik.com, Jumat (22/5/2026).

Salah satu temuan utama ialah penggunaan grease trap berbahan besi yang dinilai rawan berkarat dan berpotensi memicu kontaminasi makanan. Menurut Samsudin, fasilitas tersebut seharusnya menggunakan material stainless steel sesuai standar keamanan pangan.

Selain itu, tim inspeksi juga menemukan persoalan pada sistem penyimpanan bahan baku makanan serta pengawasan suhu di ruang pengolahan dan gudang penyimpanan.

“Kemudian pemantauan suhu di ruang pengolahan, serta penyimpanan bahan baku di gudang basah dan gudang kering. Itu juga ada beberapa hal yang menjadi catatan,” ujarnya.

KPPG memastikan penghentian operasional bersifat sementara hingga hasil uji laboratorium makanan keluar dan seluruh fasilitas diperbaiki sesuai standar.

“Setelah fasilitas diperbaiki, baru nanti silakan laporan kembali bahwa mereka siap operasional kembali,” tambah Samsudin.

Sementara itu, seorang guru bernama Nila mengaku awalnya mengira muridnya hanya mengalami penurunan kondisi kesehatan biasa. Namun saat mendatangi rumah sakit, ia mendapati beberapa anak dari lembaga pendidikan lain di wilayah Patung, Kaliwates, mengalami gejala serupa.

“Ternyata dari lembaga lain ada. Berarti ini bukan cuma anakku (muridku),” katanya.

Nila menyebut kejadian tersebut merupakan insiden pertama sejak sekolahnya menerima program MBG.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!