SUARBERITA.COM - Kondisi Timur Tengah kembali memanas setelah
penutupan kembali Selat Hormuz buntut serangan Israel pada Lebanon Rabu (8/4)
waktu setempat. Hal ini menimbulkan kehawatiran dunia akan gencatan senjata
yang telah di sepakati antara AS dan Iran. Dilansir dari DetikNews Penutupan Selat Hormuz dilakukan kembali sebagai bentuk
respon dari Iran terhadap melebarnya serangan Israel ke Lebanon yang
mengakibatkan ratusan orang tewas.
Melaui platform dia X, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas
Araghci menulis soal kejelasan gencatan senjata Iran-AS yang harus di tentukan
oleh AS.
“Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS
harus memilih gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS
tidak dapat memilih keduanya,” tulis Perdana Menteri Iran.
“Dunia melihat pembataian di Lebanon,” bola ada di tangan AS,
dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya,” tulis
Araghchi.
Teheran menilai adanya pelanggaran kesepakatan dalam proposal
damai oleh AS terkait serangan Israel ke Lebanon, aktivitas drone AS di wilayah
Iran, hingga penolakan AS terkait hak pengayaan uranium Iran untuk kepentingan
damai.
Hal ini membuat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan
penegasan terkait konflik di Lebanon yang merupakan kesepakatan tak
terpisahkan. Namun, AS dan Israel menganggap Lebanon bukan termasuk dari bagian
kesepakatan. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebutkan tentang respon yang
akan menimbulkan penyesalan apabila serangan terhadap Lebanon terus berlanjut.
“Kami menyampaikan peringatan keras terhadap Amerika Serikat
yang ingkar janji dan mitra Zionisnya dalam pembantaian. Jika agresi terhadap
Lebanon tercinta tidak segera dihentikan, kami akan menunaikan kewajiban kami
dan melancarkan respons yang menimbulkan penyesalan bagi para agresor jahat di
kawasan,” laporan dari Lembaga Penyiaran Negara Iran IRIB.
