Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Sosial

Tumpukan Sampah di Muara Angke Ganggu Jalur Kapal, Lumpur Pesisir Ditengarai Jadi Perangkap

Abd Munib4 Juni 202622.00 WIB
Tumpukan Sampah di Muara Angke Ganggu Jalur Kapal, Lumpur Pesisir Ditengarai Jadi Perangkap

SUARBERITA.COM - Kawasan perairan Muara Angke kembali menjadi sorotan setelah tumpukan sampah muncul dan menghambat area di sekitar jalur kapal Kali Adem. Endapan sampah selain mencemari lingkungan ditengarai mengganggu aktivitas pelayaran dan kegiatan pesisir.

Pasalnya, gundukan sampah tampak mengapung di atas lumpur tebal dan membentuk hamparan sepanjang kurang lebih 15 meter. Kondisi perairan di sekitar lokasi tampak menghitam dan berbau tidak sedap.

Tumpukan sampah didominasi plastik rumah tangga seperti kemasan bumbu dapur, produk kebersihan dan potongan kayu. Pengawas lapangan Unit Penanganan Sampah (UPS) Badan Air, Seno Rifaldi, menjelaskan bahwa pola pasang surut berperan besar dalam proses penumpukan tersebut.

"Terjadinya penumpukan sampah di sini karena awalnya endapan lumpur. Ketika air laut pasang surut, dia membawa sampah, dan ketika di sini udah terjadi lumpur yang tinggi, jadi sampah itu akan mengendap di atas lumpur ini," katanya dikutip dari Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bersama Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Metro Jaya melakukan pengangkutan sampah di beberapa titik. Alat berat berupa excavator dikerahkan untuk mengeruk sedimen lumpur agar proses pengangkutan sampah lebih mudah dilakukan.

Sampah yang terkumpul kemudian dipindahkan ke kapal pengangkut milik DLH sebelum dibawa ke daratan. Dalam operasi tersebut, petugas menargetkan pengangkutan hingga sekitar 50 meter kubik sampah dalam satu hari kerja.

"Dari kemarin kita mengangkut kurang lebihnya 20 meter kubik. Untuk estimasi kubikasenya hari ini, kemungkinan dengan tiga kapal itu kemungkinan kurang lebihnya 50 meter kubik bisa," tambah Seno.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kawasan pesisir Muara Angke, menjadi titik penumpukan sampah akibat kombinasi arus laut, aktivitas manusia dan sedimentasi lumpur.

Selain mencemari lingkungan, kondisi itu juga mengganggu jalur kapal di sekitar Kali Adem sebagai salah satu akses penting transportasi laut lokal.

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!