SUARBERITA.COM - Kolaborasi PT TIMAH dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) mendatangkan manfaat bagi masa depan industri nasional. Tumpukan slag timah yang selama puluhan tahun dianggap limbah kini didayagunakan. Pendayagunaan itu perwujudan dari strategi hilirisasi pemerintah untuk memperkuat kemandirian industri mineral di Indonesia.
Kolaborasi kedua perusahaan ditandai dengan penandatanganan Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka di Jakarta.
Direktur Utama Perminas Gilarsi Wahju Setijono mengatakan, kolaborasi tersebut lahir dari pembahasan panjang untuk membangun fondasi industri mineral strategis yang berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada negara lain dalam penguasaan teknologi pengolahan mineral tanah jarang.
“Hari ini cukup membahagiakan karena setelah perjuangan panjang akhirnya kita menyepakati sebuah kolaborasi antara PT TIMAH dan PERMINAS. Ini bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret untuk memulai perjalanan baru dalam membangun kedaulatan mineral Indonesia,” paparnya dikutip dari timah.com, Ahad (24/5/2026)..
Pengembangan REE penting lantaran mineral tersebut menjadi komponen mendasar berbagai teknologi modern. Misalanya, kendaraan listrik, baterai hingga industri energi terbarukan. Namun selama ini, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.
Direktur Utama PT TIMAH Restu Widiyantoro menyebut kerja sama ini membuka peluang perusahaan untuk keluar dari pola bisnis lama yang hanya berorientasi ekspor bahan mentah. Menurutnya, slag timah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai justru menyimpan potensi ekonomi besar apabila diolah dengan teknologi tepat.
“Dengan adanya kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas melalui pengembangan hilirisasi dan pengelolaan mineral strategis,” katanya.
Pemerintah berharap proyek tersebut menjadi awal lahirnya industri mineral. Selain itu, kerja sama tersebut memperkuat posisi Indonesia sebag rantai pasok global mineral.

