SUARBERITA.COM - Kenaikan angka stunting di Kalimantan Barat menjadi perhatian di tengah berbagai program percepatan penanganan yang sudah berjalan selama setahun terakhir, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih menunjukkan penurunan, data awal justru menunjukkan angka stunting masih mengalami peningkatan hingga 21,82 persen.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangg)/BKKBN Kalbar, menyatakan kondisi ini tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai persoalan kurang makan atau efektivitas satu program saja. Dalam dialog bersama RRI Pontianak, BKKBN menegaskan stunting merupakan persoalan yang dipengaruhi banyak faktor dan saling berkaitan.
Sektretaris Kemendukbangga/BKKBN Kalbar, Rindang Gunawati, menjelaskan bahwa stunting ini bukan hanyalah soal tinggi badan anak, tetapi juga berkaitan dengan kualitas kesehatan, perkembangan otak, hingga produktivitas jangka panjang. Menurutnya, intervensi seharusnya dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), bahkan sejak masa pra-kehamilan.
BKKBN Kalbar menyebut bahwa sejumlah faktor yang masih menjadi tantangan utama di lapangan antara lain akses air layak konsumsi, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga persoalan anemia pada remaja putri yang nantinya akan menjadi calon ibu. Di beberapa wilayah, konsumsi air hujan dan keterbatasan fasilitas sanitasi juga disebut masih menjadi persoalan yang memegaruhi upaya penurunan stunting.
Di sisi lain, pemerintah mengklaim intervensi tetap akan berjalan. Melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang berjalan sekitar satu tahun, Kalbar menargetkan intervensi kepada 10.987 keluarga berisiko stunting, namun realisasinya disebut telah mencapai 23.109 keluarga hingga akhir 2025. Bentuk intervensinya mencakup edukasi, bantuan nutrisi, dukungan sanitasi dasar, penyediaan air bersih, hingga pendampingan keluarga.
Program MBG sendiri untuk sasaran 3B ( ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD) disebut berjalan bertahap sesuai kesiapan pelaksanaan di daerah, dengan dukungan pendataan dan pendampingan dari BKKBN.
Kondisi ini menujukkan bahwa penanganan stunting masih membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pemenuhan gizi tetap penting, tetapi tanpa dukungan sanitasi, akses air bersih, edukasi keluarga, dan pendampingan sejak sebelum kehamilan, target penurunan stunting dinilai sulit tercapai secara cepat.

