SUARBERITA.COM - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kegelisahannya melihat perkembangan politik Indonesia. Melalui akun X pribadinya, @SBYudhoyono, Rabu (4/11/2026), SBY menyoroti praktik politik yang dinilainya semakin jauh dari batas moral dan etika.
Dalam unggahannya, SBY mempertanyakan arah kehidupan politik nasional yang menurutnya mulai mengabaikan kepatutan demi memperoleh kekuasaan.
“Kok jadi begini negara kita. Kok begini liar politik kita. Sepertinya untuk mendapatkan kekuasaan (political power) cara apapun dibenarkan. Tidak peduli baik atau buruk. Bermoral atau tidak bermoral,” tulis SBY.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena muncul di tengah sejumlah persoalan yang sedang menyita perhatian publik, termasuk perkara dugaan penyadapan illegal yang diumumkan Bareskrim Polri.
Pada 3 November 2026, Bareskrim mengumumkan penetapan tiga tersangka dalam perkara dugaan penyadapan illegal, akses illegal, dan penghapusan data elektronik. Perkara tersebut turut menjadi sorotan karena dikaitkan dengan dugaan penyadapan nomor telepon sejumlah pejabat negara.
Meski demikian, SBY tidak secara langsung menyebut perkara tersebut sebagai sasaran kritiknya. Ia juga tidak menunjuk individu tertentu dalam unggahannya.
Kritik SBY memperlihatkan kekhawatirannya terhadap persaingan politik yang dinilai berpotensi mengesampingkan nilai-nilai kepatutan. Dalam demokrasi, perebutan kekuasaan seharusnya tetap berjalan dengan menghormati hukum, etika, dan kepentingan masyarakat.
Sorotan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukan sekadar persoalan siapa yang berhasil mendapatkannya, melainkan bagaimana kekuasaan itu diperoleh dan digunakan.

