SUARBERITA.COM - Kerusakan bahan makanan, terutama sayuran dan lauk, menjadi penyebab banyak kasus gangguan kesehatan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono.
Temuan selama 50 hari dirinya memimpin BGN itu membuat pengawasan kini diperketat sejak tahap penerimaan bahan baku di dapur MBG.
Sudaryono mengatakan temuan tersebut berasal dari pengamatannya terhadap kasus-kasus keracunan yang terjadi sejak dirinya menjabat sebagai Kepala BGN.
"Sampai dengan sejauh ini saya, kan, 50 hari ya jadi kepala BGN, kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur," ujar Sudaryono usai mengikuti rapat di Komisi IX DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/9), dilansir Tirto.
Di antara lauk yang digunakan dalam menu MBG, bahan protein hewani seperti ayam, telur, ikan, dan daging menjadi perhatian khusus karena membutuhkan penanganan yang tepat.
Sudaryono menegaskan keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh proses memasak. Bahan baku yang sudah dalam kondisi rusak tetap berisiko menimbulkan gangguan kesehatan meskipun proses pengolahannya telah dilakukan sesuai prosedur.
"Mau masaknya benar kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak, tetap saja," katanya.
PERKETAT PEMERIKSAAN BAHAN BAKU
BGN mulai memperketat pemeriksaan ketika bahan baku diterima di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Salah satu mekanisme yang diterapkan adalah pencatatan atau absensi penerimaan bahan makanan untuk memperkuat pengawasan terhadap barang yang masuk ke dapur.
BGN juga tengah mengembangkan sistem semacam marketplace untuk pengadaan bahan baku, terutama protein hewani yang membutuhkan penanganan khusus.
Sistem tersebut dirancang untuk memastikan bahan makanan dibeli dengan kualitas yang sesuai dan harga yang wajar sekaligus mengurangi peluang permainan harga dalam proses pengadaan.
Mekanisme itu juga ditujukan untuk mencegah markup maupun ketidaksesuaian antara kualitas bahan yang dipesan dan produk yang benar-benar diterima SPPG.
"Kami lagi bangun supaya bahan-bahan baku protein hewani khususnya ini yang special handling ini betul-betul kualitasnya benar, dibeli dengan harga yang benar, tidak ada mark-up. Jangan sampai beli katanya kualitas A, tapi ternyata yang datang kualitasnya D," kata Sudaryono.
Pengawasan juga dilakukan terhadap pengelola dapur. BGN telah mengeluarkan orang-orang yang dinilai tidak kompeten dalam menjalankan operasional MBG.
Sudaryono mengatakan hampir separuh dari seluruh SPPG sedang menjalani pemeriksaan, sedangkan sekitar 14.000 dapur disebut telah memenuhi standar.
BGN juga menangguhkan atau melakukan suspend terhadap operasional dapur yang tidak memenuhi ketentuan.
Jika SPPG yang terkena suspend tidak melakukan perbaikan sesuai persyaratan, BGN akan menutup dapur tersebut secara permanen.

