SUARBERITA.COM - Salam tiga jari kini tidak hanya terlihat dalam aksi demonstrasi. Simbol yang sebelumnya ramai diangkat mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil itu mulai muncul di panggung hiburan Tanah Air. Sejumlah musisi Indonesia memperlihatkan gestur serupa saat tampil di hadapan penonton, mulai dari Ziva Magnolya, Iwan Fals, Mahalini, Raim Laode, Pamungkas, Yura Yunita, hingga Ghea Indrawari.
Fenomena ini membuat panggung musik ikut menjadi ruang penyampaian pesan sosial. Di tengah berbagai persoalan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah, salam tiga jari seolah menjadi bahasa visual untuk menunjukkan solidaritas terhadap keresahan yang disuarakan masyarakat.
Lantas, apa sebenarnya makna salam tiga jari?
Salam tiga jari atau three-finger salute dikenal luas melalui novel dan film The Hunger Games. Dalam kisah tersebut, gestur mengangkat tiga jari awalnya digunakan sebagai tanda penghormatan, simpati, dan perpisahan. Namun, seiring perkembangan cerita, simbol itu berubah menjadi lambang solidaritas dan perlawanan masyarakat terhadap pemerintahan otoriter Capitol.
Di dunia nyata, simbol tersebut kemudian digunakan dalam berbagai gerakan sosial dan pro-demokrasi di sejumlah negara. Maknanya tidak selalu sama, tetapi kerap dikaitkan dengan solidaritas, kebebasan, dan penolakan terhadap ketidakadilan.
Dari Jalanan hingga Panggung Musik
Di Indonesia, salam tiga jari kembali mendapat perhatian dalam aksi #IndonesiaSadar yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Dalam aksi tersebut, simbol tiga jari disertai slogan "Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan". Pesan itu menjadi gambaran kritik peserta aksi terhadap berbagai persoalan yang mereka anggap membebani masyarakat, mulai dari eksploitasi lingkungan, ketimpangan ekonomi, pendidikan, korupsi, hingga kebebasan sipil.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyebut slogan tersebut sebagai bentuk keprihatinan masyarakat terhadap situasi yang terjadi. Ia juga menegaskan bahwa pesan tersebut merupakan ekspresi aspirasi, bukan ajakan untuk memusuhi kelompok tertentu.
Kini, simbol yang sama mulai terlihat di ruang hiburan. Ziva Magnolya, misalnya, mengacungkan tiga jari saat tampil bersama Paul Klein, vokalis LANY, dalam konser di Indonesia Arena, Jakarta, pada 30 Oktober 2026. Gestur itu kemudian disambut sejumlah penonton yang ikut mengangkat tangan.
Iwan Fals juga memperlihatkan salam tiga jari saat tampil dalam konser Menembus Awan Hijau di Depok pada 31 Oktober 2026. Sejumlah musisi lain turut menjadi perhatian setelah gestur serupa terlihat dalam penampilan mereka.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana ruang penyampaian aspirasi dapat berkembang melampaui demonstrasi. Musik, yang selama ini menjadi medium ekspresi dan kebudayaan, ikut digunakan untuk menyampaikan pesan solidaritas.
Salam tiga jari pun tidak lagi sekadar gestur tangan. Dalam konteks gerakan #IndonesiaSadar, simbol tersebut merepresentasikan keresahan yang disuarakan sebagian masyarakat terhadap kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan arah kebijakan pemerintahan saat ini.
Ketika simbol itu dibawa dari jalanan ke atas panggung, pesan yang ingin disampaikan menjadi semakin luas. Aspirasi tidak hanya terdengar melalui orasi demonstrasi, tetapi juga hadir melalui musik, gestur, dan respons penonton.
Meski demikian, penggunaan salam tiga jari oleh setiap musisi tetap perlu dilihat berdasarkan konteks dan pernyataan masing-masing. Namun, kemunculannya di berbagai panggung menunjukkan bahwa isu sosial dan keresahan publik telah menjadi bagian dari percakapan di ruang hiburan.

