WASHINGTON D.C. / MOSKOW — 5–6 Maret 2026
Pada 5-6 Maret 2026, laporan intelijen mengungkap Rusia membocorkan data real-time posisi kapal, pesawat, dan pasukan AS ke Iran sejak 28 Februari, mengubah konflik regional menjadi proksi kekuatan nuklir.
Dikutip dari The Washington Post, 6 Maret 2026: "Rusia memberikan intelijen kepada Iran untuk menyerang pasukan Amerika, termasuk lokasi kapal dan pesawat—upaya komprehensif." Konfirmasi datang dari CNN, PBS, NBC News, AP, dan ABC News, menyebut data satelit real-time.
Dikutip dari PBS NewsHour, Nick Schifrin, 6 Maret 2026: "Rusia berbagi pergerakan real-time pasukan AS sejak perang dimulai—lebih dari sekadar kekhawatiran."
Kremlin tidak mengakui atau menyangkal. Dikutip dari Dmitry Peskov, Juru Bicara Kremlin, 6 Maret 2026: "Kami dialog dengan Iran, tapi mereka tidak minta bantuan." Pakar Anna Borshchevskaya kepada Reuters: "Putin prioritaskan Ukraina, tapi eskalasi Iran alihkan perhatian dari Ukraina."
Dikutip dari CNN, 6 Maret 2026: "Intelijen AS tunjuk China mungkin siapkan bantuan finansial, suku cadang, dan komponen rudal ke Iran, meski Beijing hati-hati."
Di AS, Kongres dorong resolusi kekuatan perang. Dikutip dari Hakeem Jeffries, Pemimpin Minoritas DPR, kepada Fox News, 5 Maret 2026: "Trump belum beri justifikasi hukum—ini perang besar, bukan serangan singkat."
Sementara, Ukraina tawarkan keahlian anti-drone Shahed ke negara Teluk. Dikutip dari Fortune / AP, 6 Maret 2026: "Zelenskyy bicara dengan UEA, Qatar dll., garisbawahi dampak geopolitik luas."
Konflik ini kini libatkan Rusia-China sebagai pendukung terselubung, memicu ketegangan nuklir baru.

